0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“There is no challenge strong enough to destroy your marriage as long as you are both willing to stop fighting against each other and start fighting for each other.”

Unknown

 

Segovia, kota mungil dengan arsitektur kuno dan classic ini terletak di sebelah barat laut Madrid yang saya capai sekitar 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan bus dari pusat kota Madrid.

 

Semerbak wangi dedaunan disertai angin semilir menghembus lembut ketika mereka menerpa rambut saya siang itu. Hembusannya juga perlahan membuat daun berguguran dan jatuh helai demi helai.

 

Arsitektur kota ini mengingatkan saya akan York, kota kecil yang berada tidak jauh dari kota Manchester, tempat saya tinggal di Inggris utara.

 

Saya melompat kecil ke kiri dan ke kanan menyusuri jalan menuju castle yang terletak di atas puncak bukit berbatu. Castle ini nampak anggun dengan terowongan air, sungai Eresma dan Clamores, serta dikelilingi oleh pegunungan hijau Guadarrama.

 

Saya terperangah dengan mata terbelalak seakan tak percaya saat akhirnya sampai di depan Castle Alcazar yang menjulang tinggi dengan kokoh dan gemilang. Castle Cinderella yang dulunya hanya bisa saya nikmati lewat lembaran-lembaran kertas di buku dongeng yang selalu menjadi pengantar tidur, sekarang berdiri anggun tepat di depan mata.

 

Alcazar adalah kata yang berasal dari bahasa arab al qasr yang berarti istana. Pemberian nama tersebut dipengaruhi oleh budaya Islam karena muslim Moor pernah menguasai Spanyol.

 

Setelah selesai mengitari castle, saya melanjutkan perjalanan menyusuri pusat kota di mana terdapat patung yang tertata rapi di sisi-sisi jalan dan air pancur dengan gemercik airnya seperti rinai hujan yang turun setetes demi setetes. So peaceful.

 

Saya memasuki salah satu cafe tidak jauh dari situ. Pandangan saya menyapu ke sekeliling ruangan yang sudah penuh, tak ada satu pun meja yang kosong. Ketika saya menengok ke sudut kiri ruangan, terdapat satu meja yang hanya ditempati oleh seorang perempuan setengah baya.

 

Rambut ikal sebahu yang nampak mulai memutih dibiarkan tergerai dan saat menengadahkan wajah, terlihat mata biru lembut dan bibir mungilnya tersenyum saat saya menghampiri mejanya.

 

Rasa haus yang mencekat dan perut yang melilit akhirnya membuat saya memberanikan diri meminta izin untuk duduk dan sharing meja bersama.

 

Hiya, My name is Tracy,” sapanya dengan accent British yang kental.

“Nama saya Sarah, apakah kamu dari Inggris? Saya juga tinggal di Inggris, mahasiswi di Manchester University,” saya mencoba menebak dan ternyata tebakan saya benar.

 

“Saya baru saja dari Castle Cinderella di atas bukit sana. Saya sempat terbayang kisah cinta Cinderella dan sang Pangeran yang akhirnya menikah dan happily ever after. Oh so romantic,” Saya menepukkan tangan dengan senyuman lebar.

 

Tangannya tiba-tiba berhenti memotong steak yang ada di piringnya dan menatap lembut wajah saya, “Oh well, Sarah, ingatlah, love is blind and marriage is an eye opener,” ia mencoba memberikan pengarahan sambil tertawa kecil.

 

“Akan selalu ada pertengkaran, saya pun mengalaminya. Trust me, Sarah,” ia melanjutkan.

Saya mengatupkan bibir walaupun ingin memberi respon, tapi khawatir menyinggung hatinya.

“It’s okay, go on. What do you think? I am all ears, Sarah.”

 

“Oh well, tidak semua pernikahan selalu ada pertengkaran. Buat saya, kehidupan pernikahan orang tua saya adalah idaman. Sedari kecil sampai sekarang berumur 23 tahun, tak pernah sekali pun melihat orang tua saya bertengkar apalagi sampai berteriak-teriak adu argument. They really show the power of words.

 

Sepotong perbincangan singkat walaupun sudah puluhan tahun berlalu tetap menorehkan pelajaran kepada saya bahwa pada hakikatnya tidak ada kehidupan  pernikahan yang sempurna seperti fairy tale dan kesempurnaan bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh setiap pasangan suami istri.

 

Namun, ada yang namanya hubungan yang sehat dan bahagia yang tetap bisa terlihat layaknya fairy tale. Tentunya tidak ada tongkat sulap dalam hal ini karena setiap pasangan, termasuk saya dan Chris harus selalu belajar dan berusaha mengolah rangkaian huruf sebelum keluar menjadi kata-kata.

 

Orang tua saya telah mengajarkan betapa pentingnya mengukur kata-kata sebelum diucapkan. Bukankah argumen kecil bisa berubah menjadi pertempuran besar jika dipicu oleh kata-kata yang menyakitkan?

 

I know I am so grateful and lucky to have parents who love me to bits and love each other endlessly. I love you, Mom and Dad.

 

“Raise your words, not your voice. It is rain that grows flowers, not thunder.”

Rumi

 

January 7th, 2019

More story about my life as a globetrotter:

Behind The Brand

 

don't fight

Bagikan ini: