“The best teacher encourage minds to think, hands to create and hearts to love.”
Unknown
Bagi orang Belanda seperti Chris, susu dan keju adalah makanan utama, sama pentingnya dengan nasi untuk orang Indonesia seperti saya atau daging kuda bagi orang Kazakhstan seperti Arsyl.
Masakan Belanda yang hanya berbahan kentang dipadu dengan kubis seketika akan terasa lezat hanya dengan mencampurnya dengan lelehan keju. Mulai dari keju yang sudah terkenal di seluruh dunia seperti edam yang bentuknya seperti cannon ball hingga jenis lain seperti Maasdammer, keju berlubang ala Emmental Swiss dan Komijnekaas yang ditaburi biji jinten.
Saya biasanya membeli stock keju Belanda import untuk diet Keto Chris di Hong Kong atau Manila, jika tidak ada jadwal tradeshow di Eropa. Namun, saat pandemic semua border ditutup hingga tak punya pilihan selain mencoba untuk membuat keju sendiri.
Awalnya hanya mengandalkan Youtube dan artikel tentang pembuatan keju dari internet, mulai dari bahasa Inggris hingga bahasa Belanda. Puluhan kali mencoba tetap gagal, tak terhitung sudah berapa liter susu yang terbuang dan air mata sedih yang terus berhamburan. Hingga pada akhirnya hati kecil saya berbisik, “Kamu harus mencari guru, Sarah!”.
Mulailah mencoba mencari informasi les pembuatan keju secara private. Setelah google ada beberapa nama tapi hati tidak tergerak untuk menghubungi hingga menemukan informasi yang membuat hati bergemerisik lembut. Saya langsung menghubungi tanpa berpikir dua kali.
“Selamat siang mbak Nisa, saya dapat nomornya dari internet, ingin belajar membuat keju, lokasi saya di Jakarta tapi tidak masalah saya terbang ke Malang.”
“Saya kasih nomor teman yang juga di Jakarta yah, kami satu guru jadi ilmunya akan tetap sama. Mbak Lina malah sudah sering buat keju dan specialitynya adalah keju cheddar.” Saat itu saya langsung menghubungi nomor mbak Lina Damayanti.
“Selamat siang, mbak Lina. Salam kenal, saya Sarah dan dapat nomornya dari mbak Nisa. Saya ingin belajar membuat keju secara private one on one, apakah bisa ?”
“Bisa, apakah sudah pernah membuat keju sebelumnya ? “
“Saya sudah coba sampai puluhan kali tapi gagal terus.” Menghela nafas panjang.
“Mbak Sarah mau belajar membuat keju apa saja ?”
“Mau belajar semuanya.” Semangat tumbuh kembali dalam sekejap.
“ Saya ajarkan membuat lima keju dasar dahulu yah. Sudah punya alat apa saja ?”
“ Cuma panci stainless steel saja dan termometer kecil. Belum tahu butuh apa saja.”
“Kebetulan stock alat pelatihan saya lengkap, ada termometer, sendok ukur, cetakan keju haloumi, dan alat perlengkapan lainnya.”
“Saya mau beli semuanya dong, mbak Lina. Panci stainless steel pasti kurang, besok saya beli lagi tiga dan baskom stainless steel beli delapan lagi. Kalau begitu saya pesan 50 liter susu yah? Masing masing jenis keju 10 liter. “
“40 liter juga cukup, nanti belajar buat ricottanya dari sisa whey-nya cheddar saja. Alamatnya dimana ? kendaraan umum kesana naik apa yah ?”
“Saya tidak tahu jalur kendaraan umum tapi pastinya ribet. Saya jemput mbak Lina saja.”
Setelah memberikan alamatnya, keesokannya saya minta Malik mencari alamatnya terlebih dahulu agar saat kesana di hari Sabtunya tidak tersesat. Tak lupa menitipkan paket cinta bakso bikinan sendiri untuk calon guru tercinta.
Hari yang dinanti pun tiba, sejak pagi hingga malam, mbak Lina dengan sabar dan tulus mengajarkan teknik keju dasar. Senyum tulus tak pernah lepas dari wajahnya dan pancaran matanya selalu lembut walau pun mendapatkan murid dengan pengetahuan nol besar seperti saya saat itu.
Saat pulang ia tak lupa mengingatkan bahwa ini adalah ilmu dasar. Silakan bereksprerimen dengan teknik yang lain jika sudah menguasai teknik dasar. Setelah itu, saya semakin dimudahkan jalan hingga bisa belajar langsung dari beberapa cheese expert dari Eropa melalui networking pertemanan dari zaman kuliah hingga business partner.
Tentunya kemajuan yang saya alami sebagai seorang murid hingga berhasil export, tak luput dari ilmu mbak Lina yang semuanya bermuara dari akarnya ilmu yaitu ibu Ines Setiawan, guru dari mbak Lina dan mbak Nisa.
Dear mbak Lina, you accepted the challenge to teach me, I accepted the challenge to learn, and hence we made a great team. Terima kasih telah mengajar dengan ketulusan penuh cinta.
Dear Bu Ines, teacher like you is a gift to any student because you help tiny seeds like me, mbak Lina and mbak Nisa grows into mighty trees.
“A teacher plants the seeds of knowledge sprinkles them with love and patiently nurtures their growth to produce tomorrow’s dreams.”
Unknown
May 16th, 2022


