0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“He who asks a question is a fool for five minutes; he who does not ask a question remains a fool forever”.

Chinese Proverb

 

Bulan April beberapa tahun yang lalu, saya dan Mbak Yovi kembali ke Hongkong. Saat itu langit Hong Kong masih diselimuti oleh untaian awan di musim semi yang menurut saya sangat romantic. #pujangga akut, semua bulan disebut romantic.

 

Pagi ini, kebisingan pusat kota Hong Kong membangunkan saya. Saya lalu membuka jendela dan suara hiruk pikuknya makin keras terdengar dan membuat saya makin tenggelam dalam gelombang suara yang nyaring tak ada putusnya.

 

Tidak hanya suara dentuman kaki para pekerja yang bergegas berangkat ke kantor, bahkan suara hembusan nafas semut yang nampak di jendela pun turut menyumbangkan bebunyian yang menyerbu telinga saya. #semua terdengar, ini telinga atau alat penyadap

 

Seketika saya menghirup nafas dalam-dalam dan segala suara hiruk pikuk tersebut seolah tertutup oleh wangi makanan dari rumah makan padang sebelah. #eaaaaa

 

Memang untuk menghemat budget, kami lebih memilih tinggal di apartment. Tidak heran jika kamar mandinya sangat mungil, lebih kecil dari kamar mandi Doraemon.

 

Dari jam 6 pagi kami sudah jumpalitan dari tempat tidur karena mandinya tidak boleh terburu-buru. Semua gerakan harus slow motion jika agak cepat sedikit langsung menubruk pintu kamar mandi.

 

Setelah selesai dan kami sudah tampak sesegar embun pagi, kami lalu turun kebawah. Sesampainya di luar gedung apartement dan ingin berbelok ke kanan untuk menuju stasiun MRT, tiba-tiba saya tergoda melihat antrian taxi berwarna merah di seberang jalan.

 

Taxi tersebut seakan-akan memanggil saya, “Sarah, naik MRT berat, biar orang lain saja.”

 

Kami akhirnya menyeberang menuju taxi stand. Disaat menyeberang, saya reflek mengulurkan tangan saya dengan gaya men-stop agar kendaraan berhenti sejenak ketika saya lewat.

 

Namun saya lupa kalau saya sedang berada di zebra cross Hongkong sehingga tidak perlu mengulurkan tangan ketika lampu pejalan kaki berwarna hijau karena kendaraan akan mematuhi dan akan berhenti.

 

“Mbak Yov, kalau naik taxi kita tidak usah jalan jauh yah, tapi kalau kita naik taksi berdua saja mahal”, kata saya dengan nada agak sedih.

 

“Iya Sarah, kecuali kita share dengan yang satu tujuan dengan kita”, jawab Mbak Yovi mencoba memberi ide.

 

Tanpa pikir panjang ide tersebut langsung kami eksekusi on the spot. “Dipakai dulu badge-nya. Mbak Yov, badge saya mana yah?”, tanya saya.

 

Dengan hebohnya saya langsung sibuk mencari badge di tas dan mulai panik karena badge-nya hilang. Tidak beberapa lama kemudian saya baru sadar, ternyata sudah menggantung dengan manisnya di leher saya.

 

Mulailah saya dan Mbak Yovi menyusuri antrian orang-orang yang sedang menunggu taxi. Kami ibaratnya juri pemilihan miss universe dan lagi menilai mereka satu persatu.

 

Saya langsung memasang mata elang untuk mencari target yang memakai badge yang sama seperti yang saya pakai.

 

Mencarinya pun ada syaratnya, harus dua orang, kalau tiga orang tidak bisa karena maksimal penumpang taxi 4 orang termasuk kami. Kalau cuma sendiri, share taxi-nya masih mahal karena cuma bertiga dalam satu taxi. #cring-cring bunyi dompetku #lebih banyak koinnya

 

Tiba-tiba hati saya tersentak, ada yang memakai badge yang sama dan jumlahnya mereka dua orang. “Nah ini dia yang kami cari”, kata saya dalam hati. Kami lalu menghampirinya dan tak lupa pasang senyum paling indah. Mulailah kami melakukan paduan suara ala kami, dengan suara satu dan suara dua.

 

“Hello, kalian mau ke venue HKCEC yah?”, kata saya sok akrab dan mulai memamerkan senyum 32 gigi sambil menunjuk badge yang mereka pakai.

 

“Kami juga tujuannya kesana”, kata mbak Yovi dengan senyum indahnya sambil menunjukkan badge di lehernya.

 

“Kalian mau tidak share taxi dengan kami?”, tanya saya sambil menunjukkan koin yang kami punya yang seharusnya untuk membeli ticket MRT.

 

Okay”, jawab salah satu dari mereka.

 

Hati saya lalu bersorak bahagia tiada tara karena mission accomplished. Untung kami tidak malu untuk bertanya, jika tidak, kami sekarang masih berjuang menuju stasiun MRT. Kalau ada yang lebih cepat dengan biaya yang sama, kenapa harus memilih yang lebih lama. #kibas poni

 

Akhirnya sepanjang perjalanan, saya dan Mbak Yovi saling bertukar pandang dan tanpa perlu ada sebaris kata yang terucap dari bibir ini, sinar tatapan mata bahagia kami sudah saling berbicara satu sama lain. #eaaaaa

 

Pepatah,

“Zaman dahulu, malu bertanya sesat di jalan. Kalau sekarang, malu bertanya, tenang ada Google”

 

February 23rd 2018

 

hk taxi hk taxi hk taxi hk taxi

Bagikan ini: