0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Children are not things to be moulded but people to be unfolded”

Jess Lair

 

Langit sudah mulai terang dan memancarkan sinar mentari dengan cahaya yang lembut saat saya, Chloe, dan Sophie tiba di Kuala Lumpur untuk transit. Dari balik dinding kaca airport yang besar terlihat pancaran sinar orange bercampur keemasan yang perlahan naik tanda hari sudah semakin siang.

 

Perjalanan selama 10 hari ke beberapa negara sepanjang Benua Africa tepat setahun yang lalu agak berbeda karena Chloe dan Sophie turut serta dalam business trip kali ini. Sebenarnya saya sering membawa mereka dalam business trip, tapi sangat jarang membawa mereka secara bersamaan. Alasan utama tentunya karena jadwal meeting yang panjang sehingga agak sulit untuk membagi waktu jika keduanya saya ajak secara bersamaan.

 

Di balik mata bulat mereka yang berwarna hazel, tampak kerlipan cahaya yang seakan bersinar dengan indahnya. Tak henti-hentinya mereka berdua saling menatap dan tersenyum penuh kebahagiaan karena bisa turut serta dalam business trip kali ini.

 

Sesampainya kami di Kuala Lumpur, Chloe dan Sophie dengan gesit berlari ke sana kemari. Tak nampak raut kelelahan di wajah mereka walaupun hari itu adalah bulan puasa dan mereka juga ikut berpuasa.

 

Saya lalu memanggil mereka, “Girls, I’ve got something I want to talk to you about. Do you want to come and hear it, Darling?”

 

Mereka lalu berlarian menghampiri dan saya pun berkata, “Look, ini bukan  holiday sehingga akan ada banyak meeting in between. Jadi mama tidak bisa menemani kalian bermain all the time.”

 

Chloe menjawab dengan tegas, “I know, Mama. Kami bisa bermain sendiri saat Mama bekerja.”

We are not a baby anymore, Mama.” Sophie menambahkan dengan raut muka serius.

 

Kami lalu berjalan masuk ke dalam lounge dan langsung menuju shower room area. Dengan sigap mereka menghampiri meja untuk mengambil handuk dan peralatan mandi.

 

Setelah selesai mandi, kami melihat seorang wanita setengah baya yang merupakan petugas kebersihan sedang mengepel lantai di pojok ruangan . Saya lalu mengucapkan terima kasih dari kejauhan sambil berjalan meninggalkan shower area. “Sophie, Chloe, jangan lupa berterima kasih juga, Sayang. Ibu tersebut telah membersihkan tempat ini sampai bersih dan wangi.”

 

Chloe dan Sophie lalu berteriak, “Wait, Mama!”

Mereka berlari kecil menghampiri wanita tersebut ke pojok ruangan lalu membungkukkan badan sehingga wajah mereka sejajar agar bisa menatap wajah wanita tersebut dan berkata sambil melepaskan senyum, “Thank you.”

 

“Mama, kamu lupa tersenyum dan melakukan eye contact saat mengucapkan terima kasih.” Chloe berkata setengah berbisik.

 

Yes, Mama. Seperti saat Mama memberikan kami candy, kami menatap mata Mama saat mengucapkan terima kasih. You should do that way too, Mama. By the way, can we have candy now?” ucap Sophie menimpali perkataan Chloe.

 

Saya betul-betul tergugah karena mereka telah mengingatkan sesuatu yang hampir saya lupakan. Ketika mengucapkan terima kasih, mereka menyediakan waktu beberapa detik untuk benar-benar fokus pada ucapan terima kasih tersebut. Mereka menunjukkan ucapan terima kasih tersebut dengan eye contact atau tatapan mata disertai dengan senyum tulus mereka.

 

Sebelumnya saya membenarkan bahwa atribut yang melekat dalam diri mereka sebagai anak-anak adalah tidak punya pengalaman sehingga mereka harus selalu belajar dari orang dewasa, tapi seketika semuanya terbantahkan.

 

Di satu sisi, anggapan tersebut memang benar karena mereka masih dalam masa pertumbuhan sehingga diperlukan pendampingan dari saya. Namun, hal tersebut tidak menjadikan saya sebagai pihak yang selalu tahu, sedangkan anak-anak di pihak yang serba tidak tahu.

 

Chloe dan Sophie mewarnai hidup mereka bukan hanya dengan pensil warna, tapi juga dengan hal-hal kecil yang kadang saya lupakan. Mengucapkan rasa terima kasih atas hal yang sederhana  sama seperti mengucapkan terima kasih pada hal-hal yang besar.

 

Mereka telah mengingatkan saya agar tidak pernah melupakan untuk selalu meluangkan waktu menyelami mata dan melepaskan senyuman di saat mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah membantu.

 

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa yang terpenting adalah rasa berterima kasih daripada ucapan terima kasih itu sendiri. Ucapan terima kasih haruslah dibarengi bahasa tubuh lain yang menandakan bahwa saya tulus dan benar-benar berterima kasih. Ucapan terima kasih tidak boleh hanya sambil lalu.

 

Chloe dan Sophie, terima kasih karena telah mengingatkan Mama bagaimana  caranya berterima kasih dengan ucapan terima kasih tersebut.

 

“While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about.’

Unknown

 

June 8th, 2018

 

kuala lumpur kuala lumpur

Bagikan ini: