0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Love unlocks doors and open windows that weren’t even there before”
Mignon Mclaughlin

Taiwan adalah salah satu negara yang sangat berkesan dalam kehidupan saya. Negara kecil yang sangat maju dan identik dengan budaya luar, terutama Jepang dan Amerika. Namun, keramahan khas bangsa Asia tetap sangat kuat dan kental ditanamkan kepada generasi mudanya.

Saat pertama kali saya pindah ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah, saya memang sudah bercita-cita untuk improve bahasa Inggris saya yang sangat di bawah standar walaupun sudah bertahun-tahun les bahasa Inggris di ***. Lelah hayati, bang. Les terus tapi tidak ada hasil yang Joss .
#tempatnya dirahasiakan agar tidak kena UU ITE penghinaan dan pencemaran nama baik pasal 27 ayat (3)

Jaman les bahasa Inggris dulu sewaktu masih unyu-unyunya, di dalam kelas wajib berbahasa Inggris. Dikelas tersebut bahkan yang paling bawel pun akan berbicara seperlunya atau cukup dibalas dengan senyuman saja.

Kami tahu setiap senyuman mampu menyelamatkan uang jajan kami. Kebayang kalau tiba-tiba saya keceplosan berbahasa Indonesia dan menyerocos panjang, bisa tidak cukup untuk membeli ketoprak nantinya karena harus bayar denda.

Selain itu, waktu jaman old suasana memang kurang mendukung. Kita mau bahasa Inggris sedikit saja, orang sekitar langsung cie… cie… cie. Giliran bule ngomong bahasa Indonesia satu kalimat saja langsung pada tepuk tangan.

Ingin rasanya waktu itu mengajarkan bule tersebut bahasa Indonesia. Pintu itu ‘door’. Buka pintu itu ‘open the door’. Tidak dibukakan pintu, nah itu ‘gedoor-gedoor’. #giliran saya yang tepuk tangan ahh #kibas poni

Ketika saya tinggal di luar negeri, saya memiliki tekad yang bulat bahwa saya harus mencari housemate yang beda negara, walaupun tentunya tinggal bersama orang Indonesia di luar negeri itu betul-betul PW (Posisi Wueenakk ). Kan yang penting jangan sampai beda planet saja. #pendudukluar planet mana suaranya #tidak menyebut kota

Hal menarik yang saya pelajari dari tinggal serumah dengan warga negara asing, yang kebetulan adalah orang Taiwan, adalah kuatnya budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Semua term dalam bahasa Inggris diterjemahkan kedalam bahasa Mandarin. Negara lain tentunya tetap menyebut Indonesia sebagai Indonesia, tapi di Taiwan, negara Indonesia disebutnya sebagai ‘Yinni’.

Saya juga baru tahu kalau semua nama artis luar pun juga ditranslate ke bahasa Mandarin. Bahkan nama saya pun karena sudah di anggap sebagai keluarga, punya nama Mandarin sebagai panggilan kesayangan mereka ke saya.

Satu squad kami beranggotakan sebelas dan hanya saya yang satu-satunya orang Indonesia, sepuluh lainnya adalah orang Taiwan. Kita terpisah di tiga rumah yang berbeda. Dalam rumah yang saya dan tiga orang lainnya tempati letaknya di salah satu jalanan yang tidak jauh dari kampus. Di sanalah saya mengenal arti cinta dalam sepotong Xiao Long Bao.

Xiao Long Bao adalah makanan khas Taiwan yang kulitnya tipis dan elastis, diisi oleh ranumnya potongan daging cincang, dihidangkan dengan sedikit sup hangat, terasa sangat segar saat melewati kerongkongan saya. Hmmm. #don’t worry ketoprak, cinta dan janji suciku tetap untukmu

Meskipun tidak bisa dipungkiri, tidak ada yang mengalahkan nikmatnya makan Indomie rasa soto ditaburi bawang goreng yang harum semerbaknya menggoda sukma. Tak lupa ditemani sambal ABC dan kecap Bango sambil pakai sarung atau daster batik. Kita ngobrol ngalor-ngidul , cekakak-cekikik sambil menatap jendela melihat daun-daun yang berjatuhan di musim gugur sambil bermain kartu UNO.

Menyenangkan karena otak tidak perlu loading dulu mencari translate dan grammar yang pas sebelum diucapkan. Past tense, present tense, atau apa yah ini. Bahasa Indonesia itu memang paling mudah dicerna. ‘Miss’ itu kangen. Kangen kamu ya ‘I miss you’. Minta balikan ‘ngemiss-ngemiss’. Mudah kan?

Rumah yang kami tempati berdinding bata merah tua dengan ukuran jendela yang cukup besar. Dari luar sudah tampak pintu berwarna merah cerah, secerah meronanya sambal ABC yang siap dimakan dengan bakso tusuk.

Pada pintu tersebut tertera angka 17 dan di bawahnya ada tombol bel berbentuk bulat berwarna putih. Pintu tersebut mengingatkan saya pada pintu hitam kediaman Perdana Menteri Inggris, yaitu ‘10 downing street ‘ yang ngehits itu.

Ukuran rumah mungil kami agak lebih tinggi dari jalanan, sehingga untuk mencapai pintunya, kami harus melangkahkan kaki menaiki empat anak tangga dari semen abu-abu yang agak kusam sebelum bisa menggapai bel putih yang bunyinya sangat nyaring mendayu-dayu melebihi suara Mariah Carey yang lima oktaf.

Bangunan dengan tiga lantai, terdapat dua kamar di setiap lantainya. Di lantai bawah ada living room dan kitchen. Kamar paling atas yang berada di attic dan saling berhadapan ditempati oleh Ellen dan Rinko. Kamar saya berada di lantai dua berhadapan dengan kamar sister saya, Irene.

Ellen dan Rinko umurnya beberapa tahun lebih tua dari saya dan Irene. Mereka berdua memang punya sifat keibuan dan kami berdua adalah bayi raksasanya. Panggilan sayang kami adalah Ellen mom dan Rinko mom. Merekapun memanggil kami Sarah daughter dan Irene daughter.

Rumah dengan windows of love dalam desain kalung inilah yang menjadi pengingat untuk saya bahwa cinta itu adalah sesatu yang powerful dan bisa menjembatani perbedaan, baik budaya dan karakter dari sekumpulan anak manusia yang tinggal di muka bumi ini yang ditakdirkan berada dalam satu rumah . #eeeaaaa

Dalam desain ini ada 6 buah jendela , 4 di antaranya melambangkan kamar kami dan 2 jendela lainnya adalah living room dan kitchen yang menjadi saksi di mana kami menangis tersedu-sedu ditemani Red Bull agar kuat begadang mengejar deadline tugas tugas dari dosen yang ‘Afgan’. Ruangan tersebut juga di mana kami bisa ketawa-ketiwi, memasak bersama saat badai telah berlalu. Tidak ada istilah ‘itu sih derita lo’. #hugs

Desain windows of love ini mempunyai makna yang sangat dalam untuk saya. Setiap rumah yang mana peghuni di dalamnya saling mencintai meskipun ada perbedaan, tentunya rumah itu juga mempunyai windows of love. Dua budaya ataupun karakter yang berbeda mencair dan berbaur menjadi satu di dalam mahligai cinta. #eaaaaaa #eta terangkanlah

Open the windows of your heart and let the love that has been waiting for you in.

Seperti pepatah favorit,
“Rumah tanpa cinta seperti nasi kucing yang karetnya hilang, BYAARRR”

 

sarah beekmans pendant

sarah beekmans pendant

Bagikan ini: