0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan bangsa lain” (Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia)

Setelah lulus S1, saya senang sekali akhirnya orang tua saya mengizinkan saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Awalnya saya berjanji pada orang tua bahwa hanya setahun dan setelah itu pulang ke Indonesia.

Tetapi ibaratnya burung yang baru lepas dari sangkarnya, setelah satu tahun berlalu, saya tidak mau pulang. Bahkan teman Indonesia di Inggris sampai hafal jawaban ngeyel saya, “Tunggu Queen Elizabeth suruh saya pulang dahulu, baru saya pulang”.

Setelah negara Inggris dan Amerika, Swiss adalah negara selanjutnya yang saya jelajahi. Basel, kota cantik yang merupakan bagian dari Swiss menurut saya penuh romantisme alam yang indah.

Di suatu sore, setelah pulang dari kampus, saya bersama dua sahabat saya , Michael dan Tilahum, berjalan menyusuri Rhine River dengan temperatur yang cukup hangat dan mentari yang seakan menyorot kami dengan hangat teriknya .

Di saat lembayung senja datang, kami lalu berhenti dan duduk di pinggiran Rhine river sambil menikmati ritme alam. Cahaya mentari perlahan berubah dari warna kuning keemasan menjadi merah jingga.

Udara yang terasa hangat berubah ke sejuk dan berangsur menjadi dingin. Pemandangan yang sakral itu membuat saya tiba-tiba berkata, “Ah indahnya, walaupun rindu melanda, ingin rasanya tinggal selamanya di sini dan tidak usah pulang ke Indonesia”.

Saya lalu bertanya kepada mereka, “Apakah kamu setelah ini langsung balik ke kampung halaman kamu atau jalan-jalan keliling Eropa dahulu?”. “Saya langsung pulang karena saya ingin secepatnya membantu membangun negeri saya”, kata Tilahum.

Michael lalu menambahkan dengan suara yang agak bergetar, “Niat kami sekolah di Swiss ini berbeda dengan niat kamu, Sarah. Jika tidak saya, lalu siapa? Kalau tidak sekarang, lalu kapan? Saya dan sekarang”.

Saya tiba-tiba bisa merasakan atmosfer rindu dan nasionalisme yang tinggi dalam rangkaian kata yang diucapkan oleh mereka berdua. “Caranya membangun negeri kamu, bagaimana?”, saya bertanya karena semakin penasaran.

Tilahum lalu berkata, “Carilah passion kamu apa dan seriuslah di sana. Jangan lupa, passion kamu kadang akan berbenturan atau berseberangan dengan kewajiban kamu sebagai warga negara. Cobalah ubah kata “kewajiban” menjadi kata “hak”. Kamu mempuyai hak untuk berkontribusi. Jangan cuma bisa menuntut, tapi walaupun sedikit, sering-seringlah memberi. Ingat kata John F Kennedy, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”.

Memang kami bertiga mendapatkan scholarship dari pemerintah Swiss dengan motif yang berbeda. Saya akui, saya mendaftar scholarship karena saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa sekolah ke luar negeri dengan scholarship. Selama ini semua sekolah saya, baik di Inggris dan Amerika, semua biaya dari orang tua saya.

Egoisme pribadi untuk pembuktian diri kalau otak saya juga mampu mendapatkan scholarship. Saya merasa malu, hak saya sebagai warga negara tidak saya jalankan seutuhnya, tapi hanya sekadarnya.

Indonesia, maafkan saya yang pernah bersikap ‘masa bodoh’ dan apatis.

Tamparan dari kata-kata mereka telah mengubah perspektif saya, saat saya menyebut nama Indonesia kini terdengar sangat indah dan mampu menggetarkan seluruh relung hati saya.

Jika saya ingin melihat dengan menggunakan kacamata yang benar, ternyata Indonesia penuh dengan suri teladan. Banyak sekali generasi Indonesia yang tersebar di muka bumi ini yang penuh inspiratif dan rela berjibaku demi kemajuan negeri ini.

Walaupun tidak setiap malam saya meletakkan kepala di bantal yang bernama Indonesia, tapi saya berjanji untuk tetap berusaha merajut karya di dalam dekapan cinta terhadap Indonesia dimanapun saya menjejakkan kaki di muka bumi ini.

Setiap individu adalah patriot pahlawan bangsa tanpa perlu memikirkan tanda jasa. Seorang dokter, bidan, musisi, penulis, guru, artis, pengusaha, pejabat negara, dan semua profesi mempunyai hak untuk menyumbangkan apa yang mereka bisa untuk Indonesia.

Bahkan ibu rumah tangga pun bukan hanya seorang ibu. Ibu adalah sebuah profesi karena mereka tengah membuat karya, yaitu anak bangsa penerus negeri ini. Kita semua mempunyai tujuan yang satu, yaitu semakin memajukan Indonesia. Negara yang di mana kita semua bisa hidup damai karena kita saling menghormati dan saling bertenggang rasa.

Dengan segala gonjang-ganjing kejadian yang terjadi di negeri ini, memang sudah saatnya saya semakin memperkuat dentuman langkah kecil saya dalam bentuk karya, mencoba untuk berhenti berkeluh kesah, bersyukur ketika ada, dan bersabar ketika tiada.

Setiap saat ingin kubisikkan seuntai kata yang telah terukir menjadi rasa ini, “Indonesia, aku mencintaimu apa adanya”.

 

anak bangsa

Bagikan ini: