0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Volunteers do not necessarily have the time; they just have the heart.”

Elizabeth Andrew

 

Walaupun sudah setahun tinggal di Inggris saya sangat sulit untuk menebak cuacanya karena hujan bisa saja terjadi di saat summer, bahkan memakai t-shirt pada saat winter adalah sesuatu yang normal di sana.

 

Contoh extreme yang pernah terjadi adalah pada pagi hari saya berlindung di dalam selimut yang tebal, siang hari piknik di bawah teriknya matahari dan sore harinya saya harus lari terbirit-birit karena hujan deras yang turun secara tiba-tiba.

 

Cuaca di Inggris memang sangat eratic, bizarre, unpredictable dan extreme. Salah satu faktornya adalah letak geografisnya berada di ujung Atlantik sehingga jika berada di ujung lintasan badai, badai-badai inilah yang bergerak maju mundur cantik berdasarkan perbedaan temperature dari equator ke kutub. #ehem muka serious

 

Selain itu karena negaranya berbentuk kepulauan sehingga banyak kelembaban di udara maka tak heran udara menjadi galau tak menentu. Hembusan anginnya pun sangat kuat, sehingga payung saya sering kali terhempas ke sana ke sini sampai rusak total, tidak peduli apakah itu beli di Mangga Dua, Jakarta atau beli di Harrods, London. #uhuk muka merana

 

Sore itu, anginnya cukup kencang sehingga membuat saya terseret beberapa meter, apalagi saya sedang memakai sepatu boots yang high heels sampai 7 cm dan lancip mirip jarum.

 

Rambut yang sudah saya catok sampai lurus menawan sebelum berangkat, begitu sampai di luar rumah jingkrak sana sini mirip landak karena diterpa angin yang heboh. Topi winter saya pun pasti akan segera saya keluarkan untuk melindungi rambut saya yang mempesona. #kibas poni

 

Untung saya tinggal tidak jauh dari kampus sehingga saya dengan cepat berlari pulang. Sesampai di kamar, saya membuka computer dan melihat ada email dari salah satu staff  Leeds Student Union, Mrs. Addison.

 

Ia menawarkan saya bekerja part time lagi selama delapan hari untuk menjemput para international student yang baru datang dari seluruh penjuru dunia di Leeds Bradford Airport atapun di train station di meet and greet service yang dimiliki oleh Leeds University. Sebelumnya wanita baik hati ini pernah memberikan saya pekerjaan part time di main library kampus selama 3 minggu untuk meng-entry data buku-buku di sana.

 

Keesokan harinya saya datang ke Student Union Building dan mengetuk pintu kantornya. “Hiya, Mrs. Addison, it’s me again”, sapa saya dengan melepaskan senyum lebar 32 gigi andalan sambil agak menundukkan kepala sedikit sebagai tanda menghormati.

 

Hiya Sarah. Yeah it’s you again”, jawab Mrs. Addison sambil tertawa lebar. Raut mukanya yang tampak sangat serius di balik kacamatanya yang agak tebal, tiba-tiba berubah menjadi wajah yang penuh tawa canda.

 

I am in, Mrs Addison. Let’s roll”, kata saya sambil mengepalkan tangan dengan penuh semangat.

 

“Saya belum bertanya, kita pun belum membahas tugas-tugas, jam kerja, bahkan salary-nya. Tapi kamu sudah menyetujuinya saja. Kalau jam kerjanya sampai malam bagaimana?”, tanya Mrs. Addison sambil menurunkan sedikit kacamatanya ke hidung, lalu menatap saya dengan menyisipkan senyum kecil yang tersungging dari bibirnya yang tipis.

 

Oh well, saya mempunyai pengalaman buruk di saat pertama kali saya datang ke Leeds karena koper saya sempat hilang selama beberapa hari. Semua baju, sepatu, bahkan rice cooke, dan segala makanan dari Indonesia semua ada di dalam koper saya tercinta. Saya menangis dan sangat stress waktu itu. Untung saya ada teman baru yaitu Dom dan Meghan dari Malaysia yang membantu saya di hari pertama.”

 

“Mereka menemani membeli baju dan perlengkapan sementara karena yang saya milikinya hanya satu baju yang melekat di badan saya. Saya tak peduli berapapun rate-nya, tanpa dibayar pun saya mau kerja, bahkan over time. Saya tentunya sibuk dengan tugas-tugas saya but I want to donate my time”, kata saya menjelaskan panjang lebar dengan suara agak lirih dan seketika membuat saya flash back lagi dengan kejadian tersebut.

 

Thank you, Sarah. You are hired”, kata Mrs. Addison sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan saya.

 

Hembusan angin dari luar jendela semakin menderu-deru namun tak mampu mengalahkan deruhan kebahagian hati saya. Laksana deruhan angin Inggris di saat jabatan tangan kami bersatu, karena jabatan erat tersebut adalah approval bahwa saya akan menjadi bagian dari team meet and greet Leeds University Union.

 

 “We make a living by what we get, but we make a life by what we give”

Winston Churchill

 

April 4th, 2018

More storytelling :

https://www.sarahbeekmans.co.id/behind-the-brand/

 

Leeds University Union

Bagikan ini: