“Three things in human life are important. The first is to be kind. The second is to be kind. And the third is to be kind.”
Henry James – The author of the novel The Portrait of a Lady
Hat Yai yang terletak di bagian selatan Thailand terkenal tidak hanya sebagai kota backpacker juga sebagai tempat transit dari Malaysia menuju kota lainnya di Thailand. Namun yang tak terlupakan adalah cuaca panasnya yang sangat menyengat sampai ke ubun-ubun.
Panas di kota yang dilewati garis katulistiwa pun seperti di Santan hulu, Kalimantan timur atau Tinombo Selatan Sulawesi Tengah tak mampu mengalahkan panasnya Hat Yai saat kami berada di sana.
Disaat Chloe membantu menjemur pakaian di balkon, terasa besi pagar sepanas kettle di kamar yang baru saja mendidih. “Ouch” tak sengaja Chloe menyentuh pagar.
“Berjemur sebentar saja, rambut kamu yang basah hingga ke poninya bisa langsung kering dan wavy seakan baru keluar dari salon. Hair dryer alami.” Saya mengomentari dengan muka iseng dan dibalas tatapan Chloe yang protes.
“Ih mama, you are so lebay. By the way boleh tidak ikut lanjut ke Singapore setelah jemput Sophie ?”
Ia melanjutkan rayuan yang sudah dilakukan sedari Manila. Akhirnya setelah setumpuk argumen dan negoisasi, saya bolehkan ikut setelah terlebih dahulu meminta izin ke Chris.
Chloe langsung melompat kegirangan karena seharusnya tidak ikut di business trip berikutnya ke Singapore. Giliran Sophie yang menemani karena Chloe sudah menemani dari Philippines, Hong Kong hingga Thailand.
Setelah tiba di Indonesia dan berisirahat hanya semalam, keesokan paginya lanjut kembali ke Singapore bersama Sophie dan Izza. Siang itu pesawat mendarat di Changi airport ditemani mentari yang bersinar di balik iringan awan.
Kami langsung menuju ke Marina Bay Sands Convention Centre untuk loading dan mengurus badge di Singapore International Jewelry expo yang untuk kesekian kalinya saya ikuti.
Setelah semuanya selesai, kami langsung menuju tempat penginapan dan tanpa perlu aba-aba lagi, kami serentak tertidur lelap. Tapi sebelum itu, mampir ke receptionist untuk mendaftarkan anak anak dan Izza tour keliling Singapore at night dengan scooter dan skateboard. Saya hanya bisa berharap agar tidak kelamaan tidur, kalau tidak tournya pasti terlewatkan.
Walau pun hanya perbedaan waktu satu jam antara keempat negara yang telah disinggahi, namun karena perpindahan negara yang cepat, sehingga jika tidak jetlag yang terjadi adalah disoerientasi arah.
Selalu mencatat nama kota dan negara di kertas sebelum tidur, sehingga disaat bangun sudah tahu saya berada di bagian bumi sebelah mana. Ini adalah hal yang sering saya lakukan jika solo traveling terutama jika perpindahannya adalah benua, misalnya dari Australia, ke America dan kembali ke Asia.
Hari pertama tradeshow, kami membeli breakfast sekaligus lunch agar tidak bolak-balik, anak anak dan Izza membeli nasi lemak dan buah, serta saya membeli sandwich dengan beberapa cheese stick.
“Ini mau sandwich juga tidak buat cemilan,sayang ?”
“What ? Cemilan ? That’s the full set of meal, mama. Kalau di Indonesia mama bilang mie pangsit ayam juga cemilan. Cemilan itu chips dan candy.” Mereka terbelalak mendengar sistem pengkastaan makanan versi saya, namun tetap memasukkan ke dalam kantung belanjaan.
Sekembalinya di booth, hanya beberapa suap, terlihat mereka tak bersemangat, “Tidak seenak nasi versi Indonesia, mama. Mana cemilan sandwich yang tadi.” Sophie berkomentar. Chloe merasakan kerinduan makanan yang lebih menggebu-gebu, karena sudah lebih dari seminggu belum mencicipi secara puas makanan Indonesia, hanya sempat pulang semalam.
Ternyata hampir seluruh peserta Indonesia di booth yang lain merasakan hal yang sama, sangat merindukan masakan Indonesia. Ditengah kerinduan dan fatamorgana akan kelezatan makanan indonesia , teman kami seorang wanita cantik yang tinggal di Singapore, yaitu mbak Lydia menawarkan jika ada yang mau menitip makan siang versi Indonesia asli.
Ia tidak keberatan untuk mampir di salah satu restaurant Indonesia yang terenak demi kami semua. Semua langsung bertepuk tangan bahagia dan saya melonjak kegirangan, mata Chloe Sophie pun berbinar-binar seperti kunang-kunang.
Keesokan paginya makanan yang kami nantikan tiba dan segera diserbu dengan suasana hati bagaikan taman bunga yang baru saja bersemi dengan aneka pilihan bunga yang bermekaran.
Dear mbak Lydia, your kindness will never be forgotten. It meant more to me than I can say, but here’s a start: Thank you so much and you’re amazing!
“Love and kindness are never wasted. They always make a difference. They bless the one who receives them, and they bless you, the giver.”
Barbara de Angelis – Personal growth adviser
April 16th, 2022

