0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Don’t educate your children to be rich. Educate them to be happy, so they know the value of things, not the price.”

Victor Hugo

 

Dalam perjalanan business trip ke Africa saat itu, saya mengajak dua dari tiga anak saya, yaitu Chloe dan Sophie turut serta. Perjalanan cukup melelahkan karena melintasi banyak negara dalam waktu yang cukup singkat.

 

Sesampainya kami di Tokyo untuk transit, Chloe terengah-engah karena mendorong trolley yang berisikan dua koper besar dan satu koper kecil. Secara bergantian Chloe dan Sophie mendorong trolley yang cukup berat untuk ukuran badan mereka.

 

Saat kami sedang di dalam lounge sambil menunggu connecting flight, ternyata di samping kami tengah duduk salah satu penumpang yang juga berasal dari Indonesia. Ibu tersebut tersenyum ke arah Chloe dan Sophie dan bertanya,

“Where are you from?”

Saya melirik dan terlihat ia menggenggam passport Indonesia sehingga saya pun berkata, “Kami dari Indonesia, Bu.”

“Oh dari Indonesia, saya kira dari mana , karena anaknya putih sekali. Kok bisa putih sih? Pasti papanya bule yah?”  Ibu tersebut bertanya dengan tampang menyelidik. #kepo mode on.

 

Saya cuma tersenyum dan dengan iseng berkata dengan tujuan agar ibunya berhenti bertanya seperti layaknya detektif, “Oh waktu hamil saya mengidam Bayclin, Tante, makanya putih.”

 

Ibu itu tertawa terbahak-bahak dan akhirnya diam lalu melanjutkan, “Papanya bule kan yah? Saya tidak percaya, masa sih mengidam bayclin.” #ibunya tetap kepo deh.

 

“Ini mau kemana? Liburan yah?”

Business trip, Tante.” Chloe membantu menjawab.

 

“Wah anak-anaknya masih kecil sudah diajak business trip nanti besarnya malah bisa jadi capitalist lho.” Ibu tersebut berkata sambil tetap tersenyum.

 

Sebelum saya membuka mulut ingin memberikan penjelasan, Chloe sudah menjawab dengan gayanya yang agak malu-malu, namun nada suaranya tetap tegas, “Aunty, yang saya pelajari sering ikut mama business trip adalah eventhough  life is full of cupcakes, I still cannot find happiness inside my cupcakes.”

Sophie lalu menimpali dengan melemparkan senyum lebar, “Yes, only if I start sharing my cupcakes than I can find the happiness.”

 

Ibu tersebut terlihat takjub dan mulutnya agak terbuka dan pipinya ikut mengembang, tangannya lalu menutup bibirnya yang masih terbuka lebar, “Wah kecil-kecil hebat yah, sudah bisa mengajarkan Tante,”  sambil menepuk pundak Chloe and Sophie.

 

Value adalah ruhnya sebuah bisnis dan itu baru bisa saya ajarkan secara bertahap dengan cara membawa mereka turut serta karena di saat itu Chloe dan Sophie bisa mengamati tentang apa yang bisa diajarkan jika terjun langsung ke the real world.

 

Kehidupan nyata bisa mengajarkan mereka agar tidak menjadi budak kapitalis. Jika hanya berfokus pada materi semata, cepat atau lambat akan menjadi manusia  tanpa soul sehingga lebih mirip robot yang berwujud manusia.

 

Bukankah hal yang membedakan manusia saat bekerja dibandingkan dengan binatang adalah kita bekerja berdasarkan value, sedangkan binatang tidak.

 

Memang perlu diakui, godaan kapitalisme merupakan godaan kenikmatan duniawi yang sulit sekali dihindari oleh saya sebagai manusia. Kapitalisme tidak akan pernah mati. Ia akan tetap tumbuh dan terus ada di seluruh peradaban manusia. Yang kaya makin melambung tinggi sedangkan yang miskin semakin tak berdaya.

 

Sadly to say, in general, yang namanya kompetisi hanya ada sedikit pemenang, dan lebih banyak pihak yang kalah. Moto dalam bekerja yaitu  ‘bekerja untuk hidup’ seharusnya diluruskan lagi menjadi ‘jangan membiarkan pekerjaan mengambil alih hidup ini’ sehingga kaum kecil pun bisa ikut menjadi pemenang.

 

Jika pekerjaan berfokus pada value, itu akan memberikan berkah dan berkah adalah bertambahnya kebaikan. Yang perlu diperhatikan adalah niatnya harus baik dan caranya haruslah benar, sehingga dalam belajar perlu memperhatikan dan menyeleksi kepada siapa kita belajar karena setiap guru mempunyai prinsip yang berbeda-beda.

 

Teringat dengan guru saya, Mas Jaya Setiabudi atau akrab dipanggil Mas J yang pernah mengingatkan saya sewaktu kami pertama kali bertemu di Hongkong. Ia berkata bahwa,

“Janganlah kesuksesanmu menjadi  tumbal dari orang lain.”

 

Beliau  banyak mengajarkan dan mengingatkan saya akan pentingnya selalu meluruskan niat awal, yaitu maju tanpa menjatuhkan yang lain, terutama yang lemah. Majulah dengan memberikan manfaat ke sesama.

Once again from the bottom of my heart, Terima kasih mas J. You are the best mentor ever.

 

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.

Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Prof Buya Hamka

 

July 12th, 2018

 

capitalist

Bagikan ini: