0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“To walk in nature is to witness a thousand miracles.”

Mary Davis

 

Tepat di hadapan saya gedung Leeds University Union berdiri dengan megahnya. Saya segera memasuki gedung untuk naik ke lantai dua dengan melompati dua anak tangga sekaligus agar sampai secepat mungkin di kantor Mrs. Addison.

 

Begitu sampai dan membuka pintunya, terlihat Mrs. Addison sedang sibuk menulis di secarik kertas. Sebelum ia sempat memberikan komentar, dengan kepala menunduk dan nafas terengah-engah saya langsung meminta maaf.

 

Oh My Sarah, kenapa dahi kamu bengkak? Apakah kamu jatuh?” Tanyanya dengan nada panik.

It’s okay, saya bisa menutupinya dengan topi winter ini.” Tangan saya merogoh tas dan mengeluarkan topi berwarna merah.

 

Alright, ini schedule kamu dan hari ini kamu akan berpasangan dengan Brian. Ia sudah menunggu di bawah.”

Oh wait, apakah Brian yang memiliki light brown hair dan bermata biru?”

 

“Saya tidak sedetail itu memperhatikan orang, yang saya tahu ia adalah Ph.D student di kampus ini. Kamu kenal dengan Brian?”

 

“Iya kami kenalan secara tidak sengaja beberapa menit yang lalu. Sekali lagi saya meminta maaf karena terlambat datang. I am leaving now. Thank you, Mrs. Addison.” Saya melesat turun ke bawah dan segera menghampiri Brian yang sedang duduk di bawah pohon.

 

“Brian, guess what? Saya ternyata partner yang kamu tunggu dan for your information, sebenarnya saya on time kalau kamu tidak menubruk kepala saya.” Saya mencoba memasang muka serius namun akhirnya tidak mampu menahan senyum melihat ekspresi wajahnya yang kaget.

 

“Itu hukuman karena kamu iseng mengintip ke balik kaca mobil, Sarah.” Brian menjawab dengan gaya cool-nya.

 

“Hey, saya tidak mengintip, saya cuma memasukkan kepala saya sebagian.”

 

Brian lalu berdiri seraya melirik dahi saya yang bengkak, “Shall we hit the road now, Miss benjol?” Tak ada senyuman di wajahnya, tapi terlihat kilatan di mata electric blue-nya seakan tersenyum.

 

Kami lalu menuju ke Leeds Bradford Airport dan sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya menengok ke kiri dan ke kanan. Nampaknya ada banyak keindahan yang dapat dinikmati selagi menuju airport.

 

Hembusan angin meliuk-liukkan daun dari pepohonan rindang di sepanjang jalan. Beberapa daunnya nampak mulai menguning berpadu dengan warna daun yang memerah, tanda musim gugur akan tiba.

 

Saya membuka kaca separuh untuk membiarkan angin masuk ke dalam mobil dan menikmati setiap hembusannya sambil mendengarkan gerisik daun di pepohonan yang berirama sangat sempurna mengikuti detak jantung.

 

“Brian, pohon-pohon sepanjang jalan sangat indah yah, tapi my favorite adalah Sycamore dan Ash tree. Oh ya, kamu tahu Enid Blyton tidak? Ia mampu membangun imajinasi saya tentang keindahan kedua pohon tersebut dengan sangat detail di dalam benak saya sejak kecil lewat rangkaian kata di dalam novelnya.”

 

Dari balik kaca, terlihat Sycamore tree menjulang tinggi. Batang pohonnya bersih dengan tekstur yang halus. Warna kulit batangnya mengingatkan pada kulit sapi yang dipenuhi spot hitam dan putih yang tidak beraturan. Sungguh memesona.

 

“Sycamore tree juga banyak di America dan pohon tersebut mengingatkan saya dengan keindahan nature dari hometown saya di sana.”

 

“Kalau saya, yang mengingatkan hometown adalah pohon kelor karena pohon tersebut adalah senandung alam di masa kecil saya. Semasa kecil, halaman belakang rumah sangat hijau karena dipenuhi dengan pepohonan, selain pohon kelor, pohon belimbing dan pohon anggur juga ada. Ah, jadi homesick. Kapan-kapan saya ingin ke Roundhay Park agar bisa feels like home dikelilingi oleh nature.

 

Sweet, bagaimana kalau besok kita naik sepeda ke sana, Sarah?”

“Saya tidak punya sepeda, lagipula saya takut jatuh. Saya pernah terjun bebas ke selokan waktu naik sepeda di Indonesia.” Saya menjelaskan sambil nyengir.

 

“Seharusnya kamu terjun di mata saya, bukan malah ke selokan yah.” Masih tertawa terbahak-bahak, Brian melanjutkan penjelasannya, “Sarah kamu itu betul-betul unique. Very poetic tapi juga sangat iseng.”

 

“Wow, orang kaku seperti kamu ternyata bisa tertawa. Look, mata biru kamu makin kerlap-kerlip. Kalau new year eve saya tidak butuh fireworks, cukup melihat fireworks in a natural way dari mata kamu.” Saya kembali berkata sembari melepaskan senyum iseng.

 

Pandangan mata saya lalu beralih pada semburat jingga yang telah menghiasi cakrawala biru yang berangsur berubah warna menjadi kelabu dan semakin temaram menandakan waktu sudah beranjak malam dan akhirnya kami pun tiba di Leeds Bradford airport.

 

If you truly love nature, you will find beauty everywhere.”

Vincent Van Gogh

 

June 22nd, 2018

 

nature sycamore tree nature sycamore tree

Bagikan ini: