0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We can not do great things on this earth, only small things with great love”

Mother Teresa

 

Manchester dengan sejuta rintik hujannya memberikan warna tersendiri dalam denyut waktu kebersamaan dengan salah satu sahabat saya, Arsyl, pengacara rupawan dari Kazakhstan.

 

Sifat kami yang bertolak belakang nyatanya dapat saling melengkapi. Dia adalah sosok pendiam, serius dan mempunyai aura yang sangat misterius, sedangkan saya berjiwa puitis,  gombal akut dan talkative alias rewel. Yep, opposite attracts.

 

Suka duka sebagai pelajar kami lalui bersama sehingga dia sangat hafal naik-turunnya mood saya. Ketika seluruh mahluk di bumi ini percaya akan senyuman yang saya tampilkan di wajah saya, dia tahu dan bisa langsung membaca kalau terkadang ada gurat sedih di mata saya. Selalu ada tawa dalam kesedihan dan selalu ada tangisan haru dalam kebahagiaan jika bersamanya.

 

Hampir setiap hari, setelah selesai belajar bersama di library, saya langsung melesat  ke Moberly hall untuk mandi dan setelah itu berlari ke tangga darurat dan menuruni anak tangga satu demi satu. Sebenarnya bisa naik lift, tapi Arsyl selalu berpesan untuk jangan jadi pemalas, kenapa semua harus pakai lift, hemat listrik dan ongkos ke gym kalau kamu pakai tangga. Kasihan bumi ini juga.

 

Sesampainya di lantai 6, saya menggedor pintu sebanyak tujuh kali untuk memberi kode kalau itu adalah saya, walaupun sebenarnya tanpa mengetuk tujuh kali, memang cuma saya yang paling sering ke tempatnya. Di balik wajahnya yang sangat bening, dia  adalah orang yang sangat tertutup sehinga temannya bisa dihitung dengan jari.

 

Pertama kali saya ke apartemennya, saya takjub karena suasananya mirip green house. Di sepanjang rak dindingnya di penuhi dengan Aloe Vera, Amaryllis dan kaktus tertata rapi di pot. Ada beberapa cawan berisi air diletakkan di antara pot-pot tersebut yang ternyata fungsinya adalah untuk menjaga kelembapan kamar.

 

Ada jenis tanaman lain, tapi hanya ranting kecil saja. Saya pernah bertanya, “Bunganya mana? Pohonnya sudah mati yah?”. Arsyl menjawab, “Sarah, Sarah, Sarah, Rose sejak November waktunya untuk tidur sampai musim semi.”

 

Awalnya saya merasa terganggu dengan caranya memanggil nama saya, tiap kali saya tanya, “Kenapa sih harus di sebut tiga kali? Seperti baca mantra saja”. Seperti biasa, pria misterius ini hanya membalasnya dengan senyuman Eric Cantona mix sayur bening. Aiihh lumer deh hati yang tangguh ini kalau sudah dibalas dengan senyuman seperti itu.

 

Saya paling suka melihat dia melakukan ritual malamnya, yaitu menyiram tanaman kesayangannya sambil mengajak bicara dan memberikan belaian ke tiap kuncup daunnya. Saya tertegun lalu bersorak, “Wah kamu wajib dapat medali sebagai guardian of the earth. “

 

Sambil  menatap saya, Arsyl lalu berkata, “Sarah, Sarah, Sarah, you need to live life to express, not to impress. Semua manusia dalam dirinya adalah activist, the tricky thing is, bagaimana cara agar kita bisa mengeluarkan cinta dalam innerself kita masing-masing untuk melawan epidemi ignorant yang telah menyebar di dunia ini”.

 

Dia melanjutkan, “Kita jangan sampai tergiur dengan kelimpahan harta tapi untuk mendapatkannya harus mengorbankan bumi, karena itu berarti sifat kamu masih penuh dengan kemelaratan” .

 

“Maksudnya?” Jawab saya kebingungan.

“Jika bumi ini rusak, memangnya kamu mau tinggal di mana di tata surya ini?” Jiwa gombal saya muncul dan ingin menjawab, “Tinggal di hatimu saja”, tapi karena ekspresinya lagi super duper serius, saya mengurungkan niat dan tidak jadi kibas poni.

 

“Suatu hari kelak, we are the example for our children”, Katanya dengan suara yang agak bergetar.

 

Elegi kepak-kepak sayap cintanya terhadap bumi ini benar-benar  membuat saya lumat dalam kesedihan yang tak ada batasnya. Tak terasa bulir-bulir air mata menetes di pipi karena saya menyadari begitu tidak pedulinya saya selama ini terhadap bumi.

 

Saya lalu menghampiri pohon kesayangannya dan mulai membelai sambil  membisikkan kata maaf pada pucuk-pucuk pohon tersebut. Walaupun pohon tersebut tak bisa tersenyum, tapi saya bisa merasakan bahwa mahluk hidup fragile ini membutuhkan diri saya sebagai manusia untuk melindunginya.

 

Seraya menepuk bahu saya, Arsyl berkata, “Welcome to the club”. Suara hati kecil saya menggema, “Semoga langkah-langkah kecil saya bisa memberikan dampak pada mother of earth”. Di dinginnya derai hujan, ranting-ranting cinta terhadap bumi tumbuh dan merambat dengan hangatnya di hati saya.

 

What I stand for is what I stand on – Wendell Berry

 

January 15th, 2017

https://www.sarahbeekmans.co.id/manchester/ part 1

 

work for a cause

 

Bagikan ini: