0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Customers don’t measure you on how hard you tried, they measure you on what you deliver.

Steve Jobs

 

Teringat beberapa tahun yang silam saat saya pertama kali bertemu dengan mbak Yovi di kurasi Inacraft, namun saat itu saya hanya melihat dia dari kejauhan. Ia sedang presentasi kepada para calon exhibitor Inacraft, termasuk saya mengenai kisah suksesnya sepulang dari pameran di Tokyo.

 

Sudah lama saya bermimpi untuk bisa masuk ke pasar Jepang. Saat itu produk saya sudah masuk ke pasar America, namun saya merasa persaingan masih sangat berdarah-darah.

 

Lagipula dalam dunia export, ada prinsip yaitu jika sudah bisa menembus pasar Jepang, mau menembus negara lain tinggal tutup mata. Prinsip itu memang tidak hanya sekadar isapan jempol belaka. Negara Jepang sangat terkenal susah untuk dipenetrasi karena quality control-nya paling ketat di dunia.

 

Beberapa bulan kemudian saya berangkat ke pameran Fukuoka gift show dan ternyata mbak Yovi juga turut serta ke tradeshow yang sama. Mulailah awal-awal perjuangan kami untuk hunting tiket dan demi menghemat biaya kami memilih tiket yang promo sepromo-promonya. Rute perjalanannya sangat panjang sehinga rasanya seperti naik angkot karena mengharuskan kami transit sampai beberapa kali, yaitu di Hong Kong dan Taipei sebelum akhirnya kami bisa mendarat cantik di Fukuoka.

 

Sepanjang perjalanan menuju Fukuoka tangan saya rasanya remuk dan mau patah karena sakit menahan beban di tangan. Maximum allowance bagasi adalah 30 kg, tapi total barang saya saat itu lebih dari 60 kg sehingga saya harus menenteng 30 kg sebagai hand carry.

 

Sepanjang perjalanan semua jemari tangan saya rasanya keram dan terasa melepuh, apalagi waktu transit yang sangat mepet sehingga saya harus berlari-larian menuju gate sambil menenteng dua buah hand carry yang super duper berat.

 

Setelah belasan jam perjalanan yang penuh tantangan, saya dan mbak Yovi sampai di Fukuoka Airport. Tanpa sempat istirahat, kami harus langsung menuju venue untuk loading.

 

Hari sudah mulai gelap saat kami akhirnya bisa merebahkan badan di hotel. Sebelum terkapar karena kecapekan, saya terlebih dahulu merendam tangan saya dengan air hangat, agak terasa perih namun the show must go on tomorrow.

 

Keesokan harinya kami berangkat lagi ke venue dan sesampainya di sana saya merapikan barang-barang display. Barang yang saya bawa sangatlah banyak dan beraneka rupa sehingga horn jewelry saya pun tertutup oleh jenis product yang lain.

 

Sewaktu itu pikiran saya adalah membawa produk sebanyak mungkin, jadi sibuklah saya memasukkan berbagai macam product. Mulai dari kalung berbahan kerang, gelang manik-manik, tusuk konde dari kayu, dan segala macam pernak-pernik yang saya kira akan memperbanyak koleksi di booth. Pada akhirnya booth saya kelihatan seperti toko oleh-oleh, campur aduk tidak jelas tanpa ada unity.

 

Ada beberapa inquiry di hari pertama pameran, namun hanya ada satu buyer yang tertarik dengan horn jewerly saya dan meminta izin untuk memotret beberapa model, cukup lama karena Ia mengambil gambar dari semua sudut bahkan sampai di-zoom ke bagian paling dalam.

 

Keesokan harinya, Ia datang lagi. Kali ini untuk membeli beberapa sample yang katanya ingin dirapatkan terlebih dahulu dengan timnya. Pada hari ketiga, Ia datang lagi dan kali ini ingin place order, tetapi hanya sebatas trial order jadi tidak terlalu banyak.

 

Sebelum beranjak dari tempatnya Ia berkata, “Bawalah product yang memang strength kamu sehingga qualitynya bisa kamu kontrol.”

 

Kata-kata tersebut menyadarkan saya bahwa bagi buyer Jepang quality is a must dan yang mereka maksud quality adalah sampai ke hal yang sangat detail dari product tersebut.

 

Misalnya, saat memulai membuat design kalung dan sebelum membahas warna atau model, yang pertama dipilih mereka adalah bahan yang natural karena mereka sangat mementingkan health, safety, and authenticity.

 

Selain itu, saat proses mengukir tanduk pun mereka harus yakin setiap polesannya harus smooth, bahkan sampai bagian yang tak diperhatikan oleh mata. Tidak boleh ada sudut kasar sekecil apapun karena bisa membahayakan tidak hanya pemakai, tapi orang sekitar bahkan bagi anak kecil jika secara tidak sengaja tersentuh oleh mereka. Itulah contoh kecil dari quality yang dimaksud menurut standar Jepang.

 

Segala derita yang saya alami dalam perjalanan langsung sirna dikalahkan oleh perasaan syukur karena saya bisa belajar dari kehidupan dan berguru dari pengalaman. Thank you, Jepang.

 

“Be a yardstick of quality. Some people aren’t used to an environment where excellence is expected.

Steve Jobs

May 16th, 2018

 

fukuoka fukuoka

Bagikan ini: