0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Time is free, but it’s priceless. You can’t own it, but you can use it. You can’t keep it, but you can spend it. Once you’ve lost it, you can never get it back.”

Harvey Mackay

 

Disaat saya keluar kelas bersama Rosie untuk tea break, waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 ketika saya melihat jam tangan saya. Dari tempat kami duduk terlihat cakrawala yang berwarna biru dengan angin sejuk yang berhembus cukup kuat menerpa wajah saya.

 

Mentari bersinar dengan teriknya sehingga menghasilkan siluet yang sempurna dari bayangan pepohonan yang rindang, menambah syahdu suasana sore itu.

 

Tiba-tiba suara bariton yang tidak asing terdengar di telinga saya dan Vin Diesel versi caramel machiato telah muncul di depan mata. Saya terkejut dan berkata, “Lho kamu kenapa ada di sini? Padahal kita tidak janjian untuk bertemu hari ini.”

 

“Bula, Tiny. Hanya untuk mengingatkan kamu kembali, saya adalah guide kamu selama di sini. Misi saya adalah untuk menunjukkan cara berbahagia ala Fijian setiap hari”, kata Jos sambil membungkukkan sedikit badannya dan mendekapkan tangannya ke dada dengan gaya yang sangat sopan sama seperti awal kami bertemu.

 

Oh okay, tapi kelas saya baru akan selesai sekitar satu jam lagi. Ini hanya break time. Kamu tidak apa menunggu?”, kata saya.

“Tentu saja tidak apa, saya telah menunggu kehadiran kamu seumur hidup saya, apalah artinya 3600 detik”, gombal Jos.

Sambil memegang kursi dan seakan mau jatuh saya lalu berkata “Jos, apakah airport sudah pindah ke gedung sebelah ataukah ini adalah hati saya yang sedang taking off”, jawab saya membalas.

 

“Kamu masuklah ke kelas, karena guru harus selalu dihormati jadi jangan sampai telat dan membiarkan beliau menunggu. I will be waiting for you with all my circle”, kata Jos dengan tatapan yang dalam dengan intonasi yang penuh perhatian.

 

“Bukannya with all your heart?”, kata saya membalasnya dengan tatapan iseng.

 

“Oh Tiny, hati bisa patah dan hancur berkeping-keping, sedangkan cirle will never ending. Bahkan sampai tubuh ini menjadi fosil pun, saya akan tetap  menunggu kamu”, jawab Jos dengan boyish look-nya yang sangat khas.

 

Oh gosh, saya butuh earmuff, kalian berdua betul-betul gombal akut. Ayo kita masuk ke kelas, Sarah”, kata Rosie sambil tertawa.

 

Setelah kelas selesai kami lalu beranjak pergi dan tiba di pasar tradisional yang sudah tampak sepi karena hari sudah sore dan Jos lalu memesan dua porsi rujak ala Fiji.

 

Rujaknya agak berbeda karena menggunakan bahan rumput laut jenis sea grape, berbentuk bulat-bulat kecil dan sausnya terbuat dari saus kelapa muda dicampur dengan garam dan cabai.

 

Saya tidak sabar, lalu mencoleknya sedikit dengan jari telunjuk dan saya langsung mengeryitkan kening karena rasanya yang asam.

“Tiny, jangan makan sambil berdiri, selain tidak sopan makanan itu akan terasa lebih enak kalau dinikmati, ingat it’s a journey not a destination”, jelas Jos.

 

Lalu kami berjalan ke salah sudut pasar dan duduk di bangku kayu sederhana. “Tiny, banyak orang melakukan makan sebagai proses multitasking bahkan terburu-buru misalnya, seperti yang kamu lakukan tadi sambil berdiri. Coba amati teksturnya, hirup aromanya”, kata Jos sambil menghirup dalam-dalam dengan mata dipejamkan.

 

“Rasakan dan bayangkan apa yang masuk dan menyentuh lidah kamu dalam satu gigitan. Ingat, jangan bayangkan wajah saya yang menggemaskan karena nanti malah tidak bisa tidur”, kata Jos.

 

Saya yang tadinya serius mendengarkan langsung tertawa cekikikan sambil berkata, “Mirip acara televisi yah kamu, sempat-sempatnya kamu memuji diri sendiri, dan itu sudah termasuk iklan.”

 

“Nah sekarang lanjutkan dengan mengikuti indra ke enam yaitu indra living in the moment atau indra kesadaran”, kata Jos meneruskan.

 

“Memang betul, disaat saya makan setiap hembusan nafas dan perhatian saya tidak pernah berada di dentuman irama yang sama. Oh wait, disaat saya melihat sunset, saya sudah menikmatinya seperti yang kamu ajarkan kemarin”, saya mencoba menerangkan.

 

“Yep, My Destiny. Lakukanlah proses makan seperti kamu menikmati sunset kemarin. Keindahan sunset akan semakin terasa disaat kamu tidak terburu-buru kan?”, kata Jos.

 

Kali ini saya tersenyum manis sekali karena disaat saya mencoba menikmati rujak ala Fiji tersebut, ada sensasi lain di balik rasanya yang asam. #ikutan iklan

 

Pepatah,

Jika wanita sudah berkata “Sebentar, 5 menit lagi”, kalian bisa gunakan waktu 5 menit tersebut untuk menguras bak mandi pakai kulit kuaci, menghitung biji beras lima karung dan pergi menyelamatkan dunia.

 

https://www.sarahbeekmans.co.id/happiness-journey-not-destination/  part 1

https://www.sarahbeekmans.co.id/live-every-moment/ part 2

 

fiji beach fiji flag

Bagikan ini: