“Mindful eating means leaving nothing behind. Every bite is a tribute to the preciousness of our food.”
Sore itu, langit kelabu menyelimuti Manchester saat saya dan Arsyl berjalan di trotoar basah. Langkah kami tenggelam dalam keheningan, menuju Whitworth Park Halls of Residence untuk mengunjungi Hong, teman sekelas asal China yang tinggal tak jauh dari Moberly Hall.
Mendekat, kami terpukau oleh keunikan architecture dari Whitworth Park Residence, yang akrab disapa “The Toblerones” karena bentuk segitiganya yang khas dan terbagi menjadi delapan rumah segitiga. Setiap bangunannya seolah menyanyikan puisi geometris di bawah sinar senja.
Begitu memasuki salah satu gedung toblerone, aroma bawang putih dan jahe yang baru ditumis menyambut, seolah mengundang kehangatan di tengah udara yang menusuk. Di dapur besar yang ia tinggali bersama beberapa flatmates, Hong tampak sibuk menyiapkan hidangan dan dengan senyum ramah menyapa.
“Sarah, Arsyl, kalian datang tepat waktu, mari kita makan bersama,” Sesaat saling berpandangan dengan sungkan, karena kehadiran kami sebenarnya hanya untuk meminjam satu-satunya buku perpustakaan yangkemungkinan besar telah dipinjam oleh Hong, murid paling gesit dan rajin di kelas.
“Iya, saya yang meminjamnya. Nanti kalian bisa membawanya satu malam.” ujarnya, lalu bertanya, “Apakah kalian sudah makan siang?” Arsyl, dengan nada bercanda, menyatakan bahwa ia mampu menghabiskan satu panci sendirian. “Are you sure? That might be too much,” jawab Hong dengan serious.
Di tengah kepulan uap dan dentingan wajan yang berpadu dengan irama sumpit kayu, Hong mulai bercerita. Ia mengungkapkan bahwa di tanah kelahirannya, China, adalah hal yang tidak umum jika makanan sisa diberikan kepada orang di jalanan, sehingga jika tidak habis, akhirnya hanya bisa dibuang.
“You know what, in Chinese habit, it’s impolite behaviour to waste food,” ujar Hong menambahkan dengan tegas. Mendengar itu, kami terdiam sejenak, membiarkan setiap kata meresap dalam hati, mengingatkan kami bahwa setiap butir makanan adalah berkah yang harus disyukuri.
“Food is too precious to waste, every bite is a blessing, so make it count.”
Part 1.

