“Some contrasts do not clash, they complete.”
Di depan saya, bangunan itu mulai terlihat lebih jelas. Dinding semennya tampak padat dengan texture kasar yang terasa bahkan dari tempat saya duduk, seolah bisa diraba.
Pilar pilar merah berdiri kokoh dan warnanya hangat namun tidak mencolok. Atapnya memiliki sentuhan merah yang senada, membentuk garis yang rapi dan tenang, seperti sebuah kuil kecil yang menyatu dengan jalanan di sekitarnya.
Di baliknya, bangunan tinggi menjulang. Beberapa jendela terlihat di satu sisi dengan sebuah balkon besar di lantai atas. Tirai putihnya masih tertutup sehingga memberi kesan bahwa hari belum sepenuhnya dimulai.
Bangunan itu tampak seperti apartment atau gedung kantor. Lebih modern dan seolah menyimpan ritme yang sibuk meski dari kejauhan tetap terasa tenang dan sunyi.
Saya duduk di antara dua dunia itu. Yang satu terasa lambat dan hening dan yang lain menyimpan gerak yang belum terlihat. Keduanya tidak saling mengganggu. Hanya berdiri berdampingan, apa adanya.
Di situ terasa, mungkin hidup tidak selalu tentang memilih salah satu. Ada saat di mana yang berbeda bisa tetap berjalan bersama, tanpa perlu disamakan.
Seperti pagi itu, yang tetap terasa tenang di permukaan sementara di dalamnya perlahan mulai bergerak, memberi ruang bagi keduanya tanpa harus saling menggantikan.
“Stillness and movement often share the same space.”
Part 8.

