0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Hutan mangrove Magepanda terletak di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur. Hutan seluas 70 hektar ini menyimpan sejuta keindahan. Hutan ini diapit bukit-bukit hijau yang menjulang indah yang terletak di pantai utara kota Maumere.

 

Uniknya, di sebelah barat hutan ini terdapat bukit hijau yang indah. Jika bukit tersebut dicermati seperti menyerupai sebuah bukit yang ada pada serial kartun anak-anak yang sering ditayangkan di televisi, yaitu Teletubis. Dengan keunikan itulah bukit tersebut oleh para pengunjung disebut bukit Teletubis.

 

Selain keunikan tersebut, hutan mangrove juga dilengkapi dengan jembatan yang terbuat dari bambu sepanjang 450 meter. Objek wisata ini dilengkapi pula dengan dua buah lopo( rumah tradisional ) di tengah hutan dan dua lainnya di tepi pantai. Kawasan ini memiliki satu menara pemantau sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan panorama hutan mangrove dan alam sekitar dari ketinggian sekitar 50 meter.

 

Saat Anda berjalan menyusuri jembatan bambu di hutan mangrove Magepanda di pagi atau sore hari, kesejukan dan kesegaran oksigen yang dihasilkan oleh jutaan tanaman mangrove begitu terasa. Keindahan tersebut seakan menahan Anda untuk tinggal lebih lama di objek wisata ini.

 

Setelah Anda menikmati sejuknya hutan mangrove, di ujung jembatan tersebut Anda akan terkejut dan takjub melihat keindahan pantai dengan hamparan pasir putih dihiasi hijaunya tanaman mangrove.

 

Terdapat beberapa bangku yang berjejer dibawah pohon mangrove yang terbuat dari bambu. Disiapkan khusus untuk para pengunjung yang ingin sekadar beristirahat sambil menikmati indahnya hutan mangrove Magepada.

 

Untuk sampai di lokasi objek wisata hutan magrove ini, Anda harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Maumere. Saat di perjalanan Anda akan disuguhi pemandangan yang tak kalah menarik dari bukit yang menghijau, sawah yang subur, serta birunya laut akan menemani Anda di sepanjang perjalanan hingga tiba di objek wisata tutan mangrove ini.

 

Ternyata penanam hutan mangrove ini dilakukan oleh seorang kakek tua keturunan Tionghoa, Victor Emanuel Rayon alias baba Kong. Saat ini Baba Kong yang mengelola hutan mangrove Magepanda.

 

Baba Kong mengisahkan motivasi menanam tanaman mangrove sejak tahun 1993 setelah bencana tsunami yang memorakporandakan Kabupaten Sikka tahun 1992.

 

“Waktu itu habis semua harta benda bapak, rumah, toko dan banyak orang yang meninggal. Karena itulah bapak berpikir, sebaiknya bapak menanam tanaman mangrove supaya kalau terjadi tsunami lagi paling tidak pohon-pohon ini bisa melindungi kami,” tutur Baba Kong.

 

Ketika ia dan istrinya mulai mencari bibit tanaman mangrove lalu disemaikan kemudian ditanam di sepanjang pantai, masyarakat setempat sempat mencibir bahkan menganggap pasangan suami istri tersebut gila. Namun, kecintaannya terhadap lingkungan membuat pasangan suami istri tersebut tak sedikit pun patah arang untuk terus menanam tanaman mangrove.

 

“Waktu itu orang-orang tertawa melihat kami menanam tanaman mangrove. Mereka bilang kenapa tidak tanam pohon pisang atau pohon kelapa saja, memangnya kalian makan mangrove. Tetapi kami tidak peduli karena tujuan kami hanya untuk menyelamatkan lingkungan,” ungkap Baba Kong.

 

Waktu pun berlalu seiring tumbuhnya tanaman mangrove yang ditanam oleh Baba Kong. Pada akhirnya, tepian pantai yang awalnya gersang dan panas kini menjadi hijau dan sejuk oleh rimbunnya pepohonan mangrove.

 

Keuletan dan kesungguhan Baba Kong menanam dan merawat tanaman mangrove terdengar sampai ke Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Pada tahun 2008 dan 2009, Baba Kong mendapat piagam penghargaan sebagai Perintis Lingkungan serta dianugerahi Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan oleh Presiden Republik Indonesia ke-6 yaitu bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

 

“Saat saya menanam tanaman mangrove, saya tidak berharap untuk dapat penghargaan apapun. Tetapi yang ada di pikiran saya hanya bagaimana menyelamatkan lingkungan ini,” tutur pria yang akrab disapa Baba Kong tersebut yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menanam dan merawat tanaman mangrove selama 24 tahun.

 

Walau di usia yang semakin senja, semangat yang dimiliki Baba Kong tak pernah surut. Saat ini, ia terus menangkar benih tanaman mangrove untuk dibagikan kepada masyarakat yang ingin menanam tanaman mangrove. Semoga apa yang dilakukan oleh Baba Kong membuat Hutan Mangrove Magepanda ini menjadi inspirasi untuk menjaga dan menghijaukan pesisir pantai lainnya.

 

hutan mangrove magepanda hutan mangrove magepanda hutan mangrove magepanda hutan mangrove magepanda hutan mangrove magepanda

Bagikan ini: