0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Ding Bingcai, kakek berusia 87 tahun ini sempat viral di media sosial pada tahun 2016 lalu. Bapak dari 5 orang anak dan kakek dari 10 orang cucu tersebut sebelumnya hanyalah seorang petani biasa. Namun, dengan satu sentuhan ajaib dari salah seorang cucunya, Ding Guoliang, membuatnya kini disebut-sebut sebagai “Kakek Terkeren di China”.
Ding Bingcai lahir enam tahun setelah kematian presiden pertama China, Sun Yat-sen, yaitu pada tahun 1931. Tahun tersebut hampir dua dekade sebelum seorang komunis Ketua Mao merebut kekuasaan di tahun 1949.

 

Ding menjalani masa kecilnya di Songshuping. Ia tinggal di sebuah pedesaan di pinggiran kota Shaowu, Provinsi Fujian. Selama tinggal di sana, keseharian Ding adalah bekerja sebagai petani, menanam padi dan memotong bambu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Selama berpuluh-puluh tahun hidup di dunia ini tentunya membuat Ding melalui banyak masa kehidupan, dari masa sulit hingga membaik. Di akhir usia dua puluh tahunan, Ding telah merasakan betapa sulitnya kehidupan. Pada masa itu terjadi bencana kelaparan yang menghancurkan pedesaan China dan diperkirakan telah menyebabkan kematian hingga pada 45 juta jiwa.

 

Beruntungnya, Ding bisa tetap bertahan dalam masa-masa sulit tersebut. Meski Ia harus berjuang mati-matian untuk terus bertahan hidup meski tidak banyak makanan yang Ia punya untuk meredakan rasa laparnya. Ia selalu kelaparan dan tak ada uang sepeser pun di kantongnya. Ia sangat bersyukur bahwa kini keadaan telah membaik.

 

Setelah bencana kelaparan tersebut hampir usai, Ding lalu menikahi teman masa kecilnya, Zhang Jiyu. Beberapa tahun kemudian pernikahannya tersebut membuahkan lima orang anak: dua anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Sayangnya, istrinya telah lebih dahulu berpulang pada Sang Pencipta pada tahun 2014.

 

Dengan segala masa sulit yang dilalui oleh kakeknya, Ding Guoliang atau yang biasa dipanggil Jesse pun berusaha memberikan sedikit kebahagiaan pada Ding Bingcai. Jesse bekerja sebagai seorang fotografer professional yang biasa menangani berbagai pemotretan fashion. Jika biasanya Ia selalu menggunakan model berusia 20 tahunan, pada suatu waktu Ia terpikir untuk menjadikan kakeknya sebagai modelnya.

 

Tiga buah jas, topi fedoras, dan kacamata gaya yang dipinjam dari temannya pun melengkapi penampilan sang kakek. Latar pengambilan foto hanya di tempat-tempat umum seperti jalanan atau kafe yang ada di Xiamen, Shanghai, dan Fuzhou.

 

Secara menakjubkan, setelah proses makeover tersebut sang kakek jadi terlihat keren dan berkelas. Jesse mengatakan bahwa tidak semua orang cocok menggunakan jas, tetapi tidak begitu pada kakeknya. Ia justru malah terlihat luar biasa dengan penampilan baru tersebut.

 

Jesse sendiri mempersembahkan ide ini dengan tujuan untuk mengukir senyuman di bibir kakek tercintanya. Ia ingat bahwa waktu kecil kakeknya selalu menyimpan makanan dan buah-buahan enak untuk Jesse. Oleh karena itu Jesse ingin membalas sedikit kebaikan Ding dengan membuatnya merasa lebih bermanfaat dan elegan di masa tuanya.

 

Diakui Jesse bahwa Ding adalah orang yang lemah lembut dan baik hati, bahkan pada orang yang belum Ia kenal sekalipun. Pernah suatu ketika saat Jesse dan Ding berada dalam lift yang dipenuhi banyak orang, kakeknya lalu berusaha berbagi apa yang dimilikinya di saku pada semua yang ada dalam lift. Ding menganggap semua orang adalah kawannya. Sesederhana dan sejujur itulah pemikiran Ding.

 

Meski sudah berada di usia senja, Ding tidak pernah bermalas-malasan. Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya bahwa kebahagiaan seseorang juga turut mempengaruhi kondisi kesehatan orang tersebut. Meski mungkin Ding tidak menjalani olahraga ekstrem seperti yang orang lain lakukan, Ia selalu berusaha hidup dengan bahagia dan mencintai apapun yang dikerjakannya. Itulah trik hidup sehat yang dapat dicontoh dari Ding Bingcai.

 

ding bingcai ding bingcaiding bingcai ding bingcaiding bingcai ding bingcai

Bagikan ini:
error: Content is protected !!