Rishikesh adalah salah satu kota yang ada di India. Kota ini berada di wilayah Dehradun, tepatnya di kaki bukit Himalaya di sebelah utara India. Kota ini dijuluki sebagai ‘Pintu Gerbang Garhwal Himalaya’, pegunungan yang berada di negara bagian Uttarakhand, India. Julukan lain dari kota ini adalah ‘Ibu Kota Yoga Sedunia’. Beberapa aspek lingkungan juga turut menjadi perhatian kota ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Rishikesh adalah tempat tersuci bagi umat Hindu. Para pemuka agama dan filsuf Hindu telah mengunjungi kota ini sejak zaman kuno untuk bermeditasi dengan tujuan mencari ilmu yang lebih tinggi.
Pada September 2015 akhirnya kota ini dan Haridwar dijadikan “twin national heritage cities” berdasarkan pengumuman dari Menteri Pariwisata Mahesh Sharma. Hal ini dikarenakan oleh signifikasi keagamaan tempat tersebut, makanan non-vegetarian dan alkohol juga sangat dilarang di sana.
Orang-orang sering menyebut kota ini sebagai “Ibu Kota Yoga Sedunia” tidak lain karena ada begitu banyak pusat yoga yang menarik perhatian wisatawan. Kota suci ini telah menjadi pusat spiritual selama ribuan tahun.
Banyak yang meyakini bahwa melakukan meditasi di sana dapat membawa mereka lebih dekat pada pencapaian moksha—filosofi Hindu—yang diibaratkan seperti berenang dalam sungai suci yang mengalir melewatinya. The Beatles pun pernah menyoroti kota ini saat mengunjungi kota kecil India pada tahun 1968. Kunjungan itulah yang membuat kota ini terkenal di negara-negara bagian barat sebagai destinasi untuk belajar dan praktik spiritual.
Ada banyak julukan yang diberikan pada kota yoga ini. Ia dikenal sebagai “Tapo Bhumi”, artinya adalah tempat untuk yoga dan meditasi para Dewa. Arti dari nama kota ini sendiri adalah “city of saints”, yaitu kotanya para malaikat. Menurut legenda, seorang filsuf bernama Rishi Raibhya pernah duduk di tepi sungai Gangga dan melakukan penebusan dosa yang berat dalam bentuk latihan yoga yang ekstrem.
Mitosnya, Dewa Wisnu—dalam wujud Rishikesh—muncul dan kemudian memberikan penghargaan pada Rishi. Cerita tersebut diyakini sebagai sejarah nama kota ini berasal. Selama bertahun-tahun para malaikat melakukan meditasi dan saddhana di tempat yang damai ini, di bawah pegunungan yang menjulang tinggi dan di samping sungai Gangga yang mengalir.
Kedamaian kota ini juga diakui oleh Pangeran Wales yang pernah bertandang ke Rishikesh pada tahun 2013. Pangeran Wales bahkan sempat berpartisipasi dalan Ganga arti, sebuah ritual keagamaan umat Hindu. Charles mengatakan bahwa Ia merasa takjub dengan pengalamannya duduk di tepi salah satu sungai kuno di dunia. Menurutnya, itu adalah waktu yang tepat bagi manusia untuk menemukan kembali koneksinya dengan alam.
Selain melestarikan olah raga yang dekat dengan alam, beberapa aspek lingkungan lain yang diperhatikan oleh kota ini adalah industri pariwisatanya. Wisatawan yang berkunjung ke kota ini tidak sekadar tertarik dengan yoga, tapi juga dengan kegiatan rafting dan traveling di kota ini. Rafting adalah olah raga yang populer di sana pada musim panas. Kegiatan rafting yang dilakukan di sungai tentunya membuat para turis lebih dekat dengan alam.
Dikunjungi banyak orang dari segala penjuru dunia bukan tidak mungkin menyisakan jejak-jejak kerusakan lingkungan. Dampaknya bisa terlihat dari banyaknya sampah di tempat-tempat wisata yang mengotori keindahan kota ini. Baru-baru ini Rishikesh dikabarkan telah mendapat sistem pembuangan sampah pertamanya.
Sistem tersebut diresmikan oleh Kepala Menteri Trivendra Singh Rawat dan Swami Chidanand Saraswati yang merupakan Presiden Parmath Niketan—institusi spiritual Hindu. Sistem ini bernama The Kill Waste, sebuah sistem pembuangan limbah padat yang bebas bahan bakar dan menggunakan alat yang sederhana.
Mesin utamanya dipasang di ashram untuk menginspirasi ribuan peziarah nasional dan internasional juga para pecinta dan negara tetangga untuk turut menerapkan solusi yang sama dalam komunitas mereka. Mesin ini dapat menguraikan sampah kering dan basah secara efektif tanpa menimbulkan bau dan gas berbahaya. Hasil penguraiannya berupa abu netral, dinetralisir dengan arang aktif dan dapat digunakan kembali sebagai pupuk kandang.
Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, hendaknya kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Salah satu pemanfaatannya adalah dengan menggunakannya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kesadaran lingkungan pun harus dimiliki oleh setiap orang. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan dan keindahannya saat Anda mengunjungi Rishikesh.


