“Not every noise around you needs to settle inside you.”
Matahari pagi memantul di lantai keramik mengilap yang terlihat dari jendela besar dari klinik gigi. Hembusan AC terasa semakin dingin saat kami menuruni anak tangga.
Chloe berhenti sejenak. Ia membetulkan posisi boneka kecilnya yang miring lalu meraih tangan saya dengan hangat. Tangannya mungil tetapi genggamannya terasa sangat erat.
Di ruang tunggu, seorang perempuan duduk dengan nada suara yang tinggi. Ia menggerutu pada receptionist dan mengulang keluhan yang sama. Suaranya memantul di dinding dan membuat ruangan terasa lebih sempit dari ukurannya.
Udara saat itu terasa menegang, seolah ditarik ke satu titik. Chloe menoleh sebentar lalu menggeser kursinya lebih dekat ke saya. Ia menaruh bonekanya di pangkuan dan menepuknya pelan mencoba menenangkan.
“Why is she so angry, Mama?” bisiknya dengan mata yang tetap menghadap ke depan. Saya hanya mengusap punggung tangannya dan mencoba membiarkan suara-suara di ruangan itu lewat tanpa kami ikut terbawa suasana.
Beberapa menit kemudian, perempuan itu pergi dengan langkah cepat. Ruang tunggu kembali sunyi. Yang tersisa hanya dengung AC dan suara halaman majalah yang dibalik perlahan.
Chloe menarik napas kecil. “It feels better now” katanya lirih, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Calm is not the absence of tension but the choice not to carry it.”
Part 8.

