“Great things are not done by impulse, but by a series of small things brought together.” – Vincent Van Gogh
Pagi itu di Manchester, kabut tipis menyelimuti jalanan di Oxford Road yang masih basah oleh hujan semalam. Kabut tersebut menyerupai tirai putih yang belum sepenuhnya terangkat. Udara dingin menggigit, membawa aroma tanah yang segar setelah tersiram rintik hujan.
Di salah satu bangku kayu di bawah pohon di Whitworth Park, tak jauh dari campus, Arsyl duduk diam. Punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bersandar di lutut.
Wajahnya suram, matanya kosong menatap jalan di depannya. Dalam pikirannya, terbentang samudra luas yang membawanya jauh ke America, tempat cintanya pernah berlabuh. Kini, semuanya hanyalah kenangan yang terasa begitu jauh, begitu asing.
Saya menghampirinya perlahan, membawa thermos kecil yang kehangatannya masih terasa di tangan. “Arsyl, tadi saya mengetuk pintu kamar kamu,” sambil duduk di sebelahnya, mencoba membuka percakapan.
Dia tersenyum tipis, meski matanya tetap kelam. “Ketuk tujuh kali?” katanya, mencoba bercanda meski suaranya terdengar berat. “Flat mates saya pun pasti tahu itu ciri khas kamu kalau datang.”
Saya ikut tersenyum, berharap membawa sedikit suasana hangat di tengah udara pagi yang menusuk. Namun, keheningan kembali menyelimuti kami. Arsyl menunduk, menarik napas panjang. “Kamu tahu dari mana saya ada di sini?” tanyanya pelan.
Saya memandangnya sejenak, “Karena ini spot favorite kamu,” sambil membuka tutup thermos. Uap tipis mengepul, merayap perlahan ke udara pagi yang dingin. Mungkin seperti itu juga hidup, kadang kehangatan kecil mampu memberi jeda di tengah dinginnya kenyataan.
“The warmth of a small moment can chase away the chill of a thousand worries.”
Part 1.

