0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id
A saint was asked “ What is anger ?” . He gave a beautiful answer, it’s a punishment we give to ourself, for someone else’s mistake.” Unknown
Gelak tawa terdengar nyaring dan tak putus menggema terdengar keluar hingga ke Leeds University student union, gedung tepat di depan jendela besar yang membingkai salah satu sisi apartment saya. Saat itu Lucky dan Ram sedang berbincang santai menikmati mie goreng dengan grilled sausages yang selalu saya suguhkan sebagai menu favorite setiap tamu yang datang bertandang.
“Ram, kau tuh kenapa tidak pernah marah? Waktu pertama kali kenal, aku kira seram , ternyata lucu kali kau, sampai terpingkal-pingkal aku dibuatnya.” Lucky mencoba logat Medan dan Ram  hanya membalas dengan tertawa terbahak-bahak.
“Iya, Ram. Coba kau tunjang Lucky, tunjukkan kalau kau bisa marah, Ram.”
Saya iseng menambahkan karena selama mengenal Ram juga heran karena tak pernah sekali pun melihatnya marah.
Ia hanya tertawa lepas, bahkan bisa membalikkan suasana menjadi penuh canda tawa hingga kami akan tertawa hingga sakit perut dan keluar air mata saking lucunya.
“Untuk apa pula aku marah, kak Sar ? Dalam hidup ini,  semuanya itu aku bawa santai saja.”
Ia menjawab dengan logat Medannya yang kental sembari dihiasi senyum dan wajah tanpa beban sama sekali.
Ram mengajarkan saya bahwa anger is an unworthy emotion. Jika saya berada di state of mind where I am easily get affected by others, I need to learn to deal with my emotions without breaking apart and above all, seperti yang Ram sebutkan, learn to let it go.
Yep, it is okay to be upset about something, but it is not okay to habitually turn to feelings of rage.
Dear Ramkana, you are so patient, calm and composed but at times you can be really funny too. Happy birthday.
“You can’t see your reflection in boiling water. Just like how you can’t see the truth in a state of anger. When the water calms, clarity comes.” Unknown
Bagikan ini:
error: Content is protected !!