“When life gives us fragments, it’s trusting we know how to weave”
Sebelum kembali ke apartment, saya menyempatkan diri kembali ke tempat si ibu yang pagi tadi menjual salad bunga. Ada keinginan kecil untuk membawa pulang satu porsi khao yum, nasi kerabu ala Thailand dengan warna ungu kebiruan.
Saat tiba, si ibu menyambut dengan senyum hangat dan menggeleng pelan. “Nasinya sudah habis,” katanya lembut. Tapi kemudian ia mulai meracik sesuatu dari balik wadah.
“Ini juga kerabu,” ujarnya sambil membungkus sedikit kuah dalam plastic kecil, menaburkan kelapa parut sangrai, dan meletakkan beberapa kelopak bunga telang di atas nasi putih.
Saya sempat tertegun. Tak ada warna biru seperti milik Chloe pagi tadi, hanya bunga telang yang masih utuh yang diletakkan begitu saja di atas nasi, seolah menunggu untuk larut sendiri menjadi warna biru.
Sebelum sempat berkomentar, Chloe sudah tertawa pelan di samping saya. “Maybe the ibu knows that mama likes to make everything from scratch,” katanya geli. “So she’s giving you DIY nasi kerabu.”
Saya ikut tertawa karena di balik candaannya ada kebenaran kecil yang tak bisa saya sangkal. Malam itu saya tak hanya membawa pulang sebungkus nasi putih bertabur bunga berkelopak biru.
Juga satu pengingat lembut bahwa tak semua keindahan datang dalam bentuk yang sudah selesai. Kadang, hal yang sederhana justru memberi ruang bagi tangan kita sendiri untuk melengkapinya, dengan tawa dan hati yang lapang.
“Sometimes beauty arrives unblended, waiting for us to stir it gently into being.”
Part 39.

