“Home can be hidden in a spoonful of something familiar”
Sesampainya di NAIA, langkah saya melambat. Bukan karena lelah, tapi karena ada sesuatu dalam udara pagi Manila yang menggugah, seperti sisa pelukan yang belum selesai dilepas. Seperti tawa Nigel, Chloe, dan Sophie yang masih menggantung di ujung ingatan.
Di luar terminal, saya naik taxi dan meminta berhenti di kios kecil langganan yang menjual halo-halo ice cream. Warna-warni cerah menghiasi yaitu ungu dari ube, merah muda gelatin dan putih santan beku yang mulai mencair.
Tanpa berpikir panjang, saya memesan satu. Terbayang jelas Chloe dan Sophie yang selalu memilih variant dengan topping pinipig, beras ketan muda panggang dan potongan kecil leche flan atau baked custard.
“Yang manis-manis bisa bikin hari jadi lebih sabar,mama.” begitu kata mereka. Saat sendok pertama menyentuh lidah, dinginnya cepat menyebar, lalu meleleh pelan seperti waktu yang tak bisa diajak berhenti.
Di tengah hiruk pikuk jalan dan klakson yang bersahutan, saya merasa anehnya tenang. Bukan seperti sedang datang, tapi seperti kembali, ke sesuatu yang sudah lama akrab.
Rasa manis, renyahnya kacang, dan serpihan es yang cepat lenyap itu membawa saya lebih dekat pada Chloe dan Sophie, walau secara fisik kami dipisah oleh jarak.
Ternyata, yang membuat kita merasa dekat bukan jarak yang dikecilkan, tapi kenangan yang tahu kapan muncul. Kadang ia datang dalam bentuk sederhana, seperti rasa ice halo halo yang mengajak pulang, meski kaki kita masih di negeri seberang.
“Memory has a flavor, and it often tastes like home.”
Part 45.

