0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Memory isn’t lost. It lingers in stillness, quietly waiting for the right moment to return, like a soft whisper from the past that rises when we least expect it.”

 

Langkah kami terus menyusuri lorong teduh itu, menuju tempat di mana bus pernah menunggu kami tanpa suara. Di kanan kiri, warung kecil mulai menggeliat, menjajakan sarapan local yang menguar wangi serai dan ketumbar.

 

Di depan sebuah kedai tea, seorang ibu tua duduk di bangku plastic, wajahnya menghadap jalan seakan sedang menunggu sesuatu yang tak pernah dijanjikan. Sophie menoleh lagi, kali ini tanpa berkata apa-apa. Tapi saya tahu, ada sesuatu yang bergerak di balik diamnya.

 

Saya bisa mengenali caranya menatap sekitar, seperti ingin merekam dunia, bukan sebagai destinasi, tapi sebagai ruang di mana perasaan bisa diam-diam tinggal.

 

Kami menemukan shuttle  bus itu, parkir dalam bayangan pohon dan suara kipas angin dari gerai minuman. Seorang petugas menyambut dengan senyum tipis. Sophie naik lebih dulu sambil menunjukkan badge yang tergantung di lehernya ke petugas lalu duduk dekat jendela.

 

Ia menoleh sebentar ke arah saya yang baru menaiki anak tangga bus, lalu berbisik, “Mama… do you think places remember us too? Or is it just us remembering them?”

 

Saya terdiam sesaat, menatap jendela yang memantulkan bayangan tipis Sophie dan saya… dua silhouettes yang sedang duduk di antara jeda perjalanan dan sisa-sisa kenangan.

 

Saya duduk di sebelahnya, dan dalam keheningan yang ringan itu, saya berbisik perlahan,“Kadang, suatu tempat terasa istimewa bukan karena kemewahannya… tapi karena di sana, kita pernah merasa dikenali , oleh waktu, oleh suasana, atau oleh versi diri kita yang dulu.”

 

“Memory rarely announces itself, it slips in quietly, through a glance, a gesture, or a familiar silence.”

Part 28.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!