“Ladies, a man that is truly interested in you will never leave you guessing about the role he intends to play in your life. Good men pursue the women they want with upfront communication, genuine intentions and consistent effort.”
Unknown
Pagi itu langit dibungkus mentari yang terik dan bunga-bunga bermekaran dengan gradasi warna terindahnya, tanda summer telah tiba. Di dalam kelas, saya dan Daniel terpaksa duduk di barisan paling depan karena bangku lainnya sudah penuh.
Kami mendengarkan dengan serius kata demi kata dari penjelasan George mengenai depresi. Sesekali ia melihat ke arah kami dan melepaskan senyumnya dengan kilatan mata hazelnya.
“Puluhan tahun bersahabat, saya tidak pernah melihat dia senyum aneh seperti itu.” Daniel berbisik.
“Mungkin karena kita belum mandi.” Saya ikut berbisik dan tertawa kecil.
Tak terasa sesi kelas telah berakhir dan George menghampiri menawarkan botol minumannya kepada saya.
“Kamu haus ? Daniel tidak butuh, dia sehebat water-holding frog, mampu menyimpan air di kantung di bawah kulit.” Dijawab dengan gelak tawa dari mereka berdua.
“Thank you dan terima kasih atas jasnya . Maaf saya pakai sebelum minta izin ke kamu. Nama saya Sarah.”
“I know, Daniel bercerita banyak tentang kamu. Saya George. Lovely to meet you, Sarah.” Ia menatap lurus dengan senyum yang tetap mengembang.
“Sarah, time to go. Saya juga harus ke court, ada beberapa client dari penjara yang harus saya bantu. Bye George.” Daniel menepuk bahu dan melambaikan tangan.
“Saya ada kelas pagi ini. Thank you for everything, George.”Saya ikut melambaikan tangan dan membalas senyumnya.
“Wait, Sarah. Kamu lunch dimana?” George menahan langkah kaki kami.
“Didekat kampus , mungkin hanya membeli crab cake sambil menikmati teh di depan market. “
“Bagaimana kalau kita lunch bersama? Daniel, kamu ingin ikut lunch bersama kami ?”
“Of course, tapi saya agak terlambat.”
Daniel menurunkan saya di depan apartment dan segera bersiap untuk berangkat ke kampus.
Setelah kelas pagi selesai, saya berjalan ke market yang tidak jauh dari kampus bersama teman kampus, Xavier, dokter dari Haiti. Kami membeli crab cake ,ciri khas dari Baltimore. Cake ini cocok bagi yang ingin makan daging kepiting tanpa perlu pusing mengeluarkan dari shellnya.
Kami duduk di bangku dan tak lama George melambai tangan dari jauh dan saling berkenalan. Mereka tertawa mengamati cara unik saya menikmati makanan. Sedari tadi saya sibuk membongkar potongan crab cake demi mencari daging kepiting yang terjerat ditengah timbunan mayonnaise, bread crumbs, daun bawang dan telur.
“You know what, menikmati dengan cara ini terasa lebih gurih karena perjuangan dan kesabaran untuk mendapatkan setiap potongannya sangatlah priceless.Try it, it’s fun.”
Kami bertiga duduk menikmati crab cake dengan cara saya dan akhirnya tertawa bersama melihat wajah hingga pakaian menjadi berantakan.
“Sedari tadi ada saja cewek yang melirik ke arah sini. Kalian certainly have all the quality that a girl would want for a boyfriend. Bisa-bisa mereka akan mencintai kalian sebegitu dalamnya hingga mereka terjatuh, terpelanting, terjerembab dan akhirnya perlu diurut.” Saya berkata dengan wajah datar dan menahan senyum.
“Itu jatuh cinta atau kerasukan voodoo ?” George tertawa terbahak-bahak namun berhenti seketika saat melihat wajah Xavier yang terlihat mendung.
“Oh well, semoga saya sekarang mampu mempunyai quality seperti itu. I was a jerk boyfriend karena meninggalkan pacar saya tanpa kabar.” Xavier berkata dengan nada penyesalan.
“Kenapa kamu melakukan itu ?” Saya penasaran namun dengan nada tanpa ingin menjudge.
“Saya kira she is the one but I was wrong. Saya akan menyakiti hatinya jika saya memutuskan hubungan secara langsung saat itu.” Xavier menjelaskan.
”Oh man, I think you owe her an apology. Semoga dia bisa menyadari bahwa kamu adalah part of her history and not part of her destiny hingga pada akhirnya bisa letting go. Apakah kalian ingin tahu my love story ?” Disaat George ingin melanjutkan tiba-tiba telephonenya berdering dan pembicaraan terputus sementara.
Percakapan singkat kami bertiga sebagai pengingat bahwa jika suddenly pria yang dicintai poof! into thin air hal yang terbaik adalah letting go. Was it hard untuk letting go ? Not as hard as holding on to something that wasn’t real .
“If you love someone, set them free. If they comeback, it means nobody else liked them. Set them free again.”
Unknown
April 1st, 2022

