0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Home is not a place, it’s a feeling we hold in our hearts.”

 

Pagi masih tenang, tapi ada energy yang perlahan memenuhi udara, seperti jeda sunyi sebelum lagu pertama dilantukan. Matahari mulai naik pelan, menyapu jejeran tenda pasar dengan cahaya hangat yang jatuh lembut di sela-sela daun. Saya melirik jam,sudah waktunya kami beranjak.

 

Perlahan, saya berdiri dan merenggangkan kaki, membiarkan sisa kelembutan pagi menyerap ke dalam tubuh. Sophie ikut berdiri, menepuk-nepuk celana pinknya yang dipenuhi serpih rumput, lalu menatap saya dengan matanya yang bulat.

 

“Mama,” bisiknya sambil menggigit bibir bawahnya, “how come it feels like we’re home… even though dit is just a kleine pasar?” Saya tersenyum, mendengar bahasanya yang campur aduk seperti pikirannya sendiri yang bebas, jujur dan tanpa batas.

 

Tangan saya terulur, mengusap rambutnya yang mulai menari tertiup angin. “Karena rumah bukan tempat, sayang… rumah itu rasa. Kadang, cukup duduk berdua, melihat semut berjalan, atau hanya saling diam di tengah rumput yang bahkan agak kotor.”

 

 

Sophie tertawa kecil, matanya melirik beberapa botol plastic bekas yang tersembunyi di balik ilalang. “Let’s go, Mama. I’m ready.” Tangannya terangkat tinggi, seperti mengerahkan seluruh semangatnya pagi itu. Saya mengangguk. “Yes, let’s head to BITEC, sayang.”

 

Dia meraih tangan saya, dan seperti biasa, langkah-langkah kecilnya penuh keyakinan. Kami meninggalkan pasar itu, bukan tergesa, tapi dengan pelan yang pasti untuk menuju apa yang sudah menanti di depan.

 

Hari ini adalah hari pertama tradeshow, waktunya menata booth sebelum para calon buyer datang. Tapi di antara semua yang harus disiapkan, pagi ini tersimpan di kantong hatinya bahwa rumah bisa muncul di tempat yang tak terduga, selama kita mau merasakannya.

 

“Home is a feeling, not a place, it’s what we sense when we’re together with what truly matters.”

Part 17.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!