“It’s easy to forget that today’s blessings were once yesterday’s prayers.”
Malam telah larut, langit hitam pekat bagaikan beludru membentang, memeluk bumi dalam keheningan. Pesawat yang membawa saya akhirnya mendarat di I Gusti Ngurah Rai Airport, dan dari kejauhan, Chris melambaikan tangan menyambut dengan hangat.
Tubuh yang lelah terasa semakin berat, namun hati menuntun langkah kaki ke kamar Chloe dan Sophie. Di balik pintu yang sedikit terbuka, terlihat dua sosok kecil masih terjaga.
Chloe dan Sophie duduk di lantai berbalut piyama pink dengan wajah penuh coretan warna-warni. Lipstick, bedak, dan mascara kesayangan saya menjadi jejak-jejak kecil kreativitas memenuhi pipi, dahi hingga hidung mereka.
Tawa riang mereka memenuhi udara tak menyisakan celah untuk rasa bersalah. Rasa amarah mulai menyusup perlahan dan hanya bisa duduk terdiam. Namun sebelum sepatah kata pun keluar, mereka melompat dan menghamburkan ciuman.
Wajah dipenuhi lipstick dan mascara, namun saat melihat pantulan di cermin, rasa amarah itu menguap diganti oleh sebuah kenangan. Pikiran meluncur mundur, kembali pada saat masih single dan mengharapkan kebahagiaan yang kini saya miliki.
Masih teringat dengan jelas seuntai doa suatu saat diberi anak perempuan agar ada yang menemani make-up bersama. Kini saya tidak hanya memiliki seorang make-up artist mungil, tetapi dua, dengan tawa yang lebih riang daripada imajinasi saat itu.
Dalam tatapan polos mereka, saya tersadar bahwa doa tersebut terjawab, bahkan dalam bentuk yang lebih indah dari yang dibayangkan. Oh well, sometimes, I have to remind myself that my current chaos was once my greatest wish.
“Do not spoil what you have by desiring what you have not. Remember that what you now have was once among the things you only hoped for.” – Epicurus

