“In the quiet footsteps of tiny creatures, we learn the art of stillness.”
Kabut yang tadi menutupi Whitworth Park perlahan menghilang, seperti tirai yang terbuka, memperlihatkan panggung kehidupan. Cahaya mentari pagi menyusup pelan melalui dedaunan, menciptakan bayangan lembut di tanah yang basah oleh embun.
Para squirrels mendekat, mengelilingi kaki kami dengan ceria, seakan ingin mengajak untuk merayakan pagi. Arsyl tetap terdiam, pandangannya terpaku ke depan, seolah ingin mencari jalan keluar dari pikirannya yang penuh.
Matanya masih menyimpan sisa kelelahan, namun ada percikan kecil yang mulai tumbuh di sana. “Sahabat-sahabat kamu datang to say hello” melihatnya tersenyum tipis saat merogoh kantungnya untuk memberi beberapa potong kacang pada squirrels yang setia menunggu.
“Sepertinya mereka ingin ikut mendengarkan cerita tentang kabut dan matahari,” jawabnya, suara yang semula serak kini mulai terdengar lebih ringan.
Saya ikut tersenyum, merasa sedikit lega melihat Arsyl mampu melemparkan canda. “Okay, squirrels dan Arsyl, listen,” sambil menatap mereka bergantian. Senyum simpul berubah menjadi tawa geli, melihat betapa ringan suasana hati Arsyl meski hanya sejenak.
Arsyl tersenyum tipis, memandang para squirrels yang sibuk menikmati kacang-kacang yang dia berikan. Ada sesuatu yang ringan di wajahnya, seolah beban itu sedikit berkurang.
“Terkadang kita terlalu serius mencari jawaban, padahal hal-hal sederhana seperti berbagi kacang dengan mereka, bisa mengingatkan kita untuk menikmati moment kecil,” matanya masih mengikuti gerakan lincah mereka.
“Even the tiniest of creatures can teach us the value of slowing down and savoring life’s simple gifts.”
Part 4.

