0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Even the quiet kind of sorrow softens in the warmth of shared laughter and stories.”

 

Pagi perlahan merayap naik di balik jendela dapur. Sinar matahari malu-malu menyusup lewat tirai tipis, menyorot piring yang masih menyisakan jejak koshari. Kami masih duduk, tertinggal dalam sisa tawa. Akhirnya saya berdiri, berjalan ke kulkas, dan membukanya perlahan.

 

Mata saya menjelajahi rak demi rak seakan sedang membaca novel yang penuh mistery. “The rest is officially empty,” gumam saya, masih sibuk mengamati, “kecuali satu tomat yang kesepian dan tiga batang cokelat, Frey, Läderach, dan Lindt, yang kini tinggal kenangan.”

 

“Mana chocolatenya?” tanya Mohammed, matanya berbinar, setengah serious, setengah berharap. Saya tertawa tanpa menoleh, “I told you, chocolatenya tinggal di kenangan.” Gelak tawa kembali meledak, renyah tapi hangat. Tilahum hanya mengangkat alis, pura-pura heran.

 

“Sarah, kalau kamu dan Michael bisa membuat lunch untuk kita semua dari isi kulkas berarti kalian resmi dapat wizard badges,” meneguk sisa tea sembari melepas senyum tipis. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Michael berdiri dan mengangkat gelas kosongnya seolah bersulang.

 

“You can call us magicians of leftover food. Final-year student level,” dengan gaya serious tapi mata masih tertawa. Sebelum duduk lagi, ia menambahkan, kali ini seperti sedang memberi kuliah, “Honestly, surviving on what’s left in this fridge teaches us two things, gratitude… and extreme creativity.”

 

Tawa kami kembali terdengar, kali ini lebih pelan. Seperti uap yang tertinggal di atas cangkir, tidak riuh, tapi cukup untuk menghangatkan pagi yang masih setengah diam, ditemani gerisik angin di antara daun-daun.

 

Saya kembali mengintip isi kulkas dan berkata layaknya seorang juri lomba memasak. “Okay, Michael, our today’s survival challenge: make a meal using half a lemon, one overripe tomato, expired yogurt… and a generous sprinkle of hope.” Kali ini, Tilahum tertawa lebar dengan wajah tampak lebih cerah.

 

“Some mornings arrive wearing grey, but leave wearing yellow, softened by laughter, and brightened by the right company.”

Part 5.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!