“Embrace your pain so that you can begin to move past it .” Jay Shetty
Saya masih menatap koper ungu mbak Patsy yang berdiri diam dan tak jauh dari situ, koper orange saya juga terparkir di sudut booth. Pada permukaannya yang tak lagi mulus dan agak penyok, tergambar ulang fragment-fragment perjalanan yang pernah saya lalui.
Saya teringat saat terjebak badai di Manila bersama koper tersebut. Lalu pagi yang hampa di San Francisco, ketika koper itu tak muncul di belt kedatangan, seolah sengaja tertinggal di tempat yang asing.
Lalu langkah tergesa di Hong Kong airport, saat pesawat dari Jakarta terlambat mendarat dan suara panggilan terakhir menuju Fukuoka bergema seperti ultimatum. Saya berlari, seolah sedang berlomba melawan waktu yang nyaris habis.
Bahkan kisah dimana saya benar-benar tertinggal pesawat di Kuala Lumpur. Duduk di bangku plastic yang dingin, dengan boarding pass yang sudah expired, saya menggenggam kekesalan yang menjalar sampai ke ubun-ubun.
Baru belakangan saya menyadari, bahwa saat saya berhenti melawan luka dan mulai duduk diam bersamanya, justru di sanalah langkah saya terasa lebih ringan. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena saya tak lagi sibuk menolaknya.
Pagi itu, derai tawa ringan Mbak Patsy mengingatkan saya pada seluruh rentetan kisah yang tak selalu berjalan seperti harapan. Lalu pelan-pelan, saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa kedamaian tidak selalu hadir saat hidup berjalan mulus.
Tapi justru ketika hati mulai belajar menerima luka tanpa panic dan tanpa penolakan. Saat kita cukup sadar untuk menanggungnya dengan tenang, luka itu tak lagi menuntun langkah, tapi kitalah yang mulai bisa memilih arah.
“When you accept your pain, you begin to heal. When you carry it with awareness, it stops carrying you.” Jay Shetty
Part 15.

