“To listen without correcting is to offer someone a place to land.”
Kami masih di udara. Laut Cina Selatan kini diselimuti lembut oleh cahaya pagi yang merayap pelan, seperti gumpalan susu yang meresap di atas kertas yang yang masih berdebu.
Cabin mulai hidup kembali , terdengar bisikan lirih, batuk ringan dan denting gelas plastic yang bersentuhan. Tapi wanita di sebelah saya tetap sama, gelisah, seperti ada yang terus bergerak dalam dirinya meski tubuhnya duduk diam.
“Lihat itu,” ujarnya sambil menoleh setengah, menunjuk pramugari yang sedang merapikan selimut seorang penumpang lansia. “Sudah dari tadi, baru dibantu. Harusnya semalam waktu dia kedinginan.”
Suaranya tidak tinggi, tapi dingin. Bukan amarah, lebih seperti jenuh yang belum reda. Saya menoleh perlahan. Pramugari itu tampak lelah, tapi tetap ramah. Matanya sembab, namun tersembunyi rapi di balik senyum sopan yang telah terlatih.
Saya tak tahu apa yang tersimpan di balik wajahnya, tapi saya bisa membayangkan malam yang panjang, ketika tubuh terus bekerja, meski hati ingin pulang. Saya menarik napas pendek, namun memilih tetap diam dan hanya mendengarkan.
Tangannya kini bersedekap. Pandangannya jauh, menembus jendela yang mulai silau oleh cahaya pagi. Lalu ia berkata, hampir seperti kepada dirinya sendiri, “Dulu saya juga kerja di bagian customer service, banyak yang bilang saya dingin., padahal saya hanya lelah.”
Saya hanya mengangguk kecil, membiarkan kalimatnya jatuh perlahan, seperti rintik hujan yang datang di luar musim, tenang, namun menyimpan sesuatu yang belum selesai. Oh well, tak semua orang butuh jawaban.Beberapa hanya ingin bicara, sampai suara di dalam dirinya tak perlu bersuara lagi.
“Sometimes, listening is the softest way to hold what someone can’t carry alone.”
Part 2.

