0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Some heroes move quietly across the earth, leaving it better than they found it.”

 

Sophie masih berdiri di sisi saya, jarinya menyentuh kelopak ungu yang menjuntai dengan tenang. Angin pagi mengayun rambutnya, dan dalam diam yang melingkupinya, ada sesuatu yang sedang tumbuh dengan perlahan, tapi pasti.

 

Tiba-tiba ia menarik tangan saya. “Mama,” bisiknya, “if flowers bloom even when nobody’s watching… maybe I can too.” Saya menatapnya, lalu menaruh telapak tangan di pipinya, hangat dan lembut. “You already are, Sophie. You already are.”

 

Saya tersenyum, kemudian membelai pelan rambutnya yang tertiup angin. “Lihat daunnya, sayang… bentuknya seperti hati, seolah sedang belajar membuka diri pada dunia.”

 

Ia ikut menatap lekat-lekat dedaunan hijau itu, sejenak tak berkata apa-apa. Hanya bunyi dedaunan yang bergesek ringan dan aroma tanah pagi yang menjawab.

 

Saya melanjutkan, kali ini dengan suara yang hampir berbisik, “Tapi yang paling istimewa dari kudzu bukan hanya bunganya. Ia bertahan dalam sunyi. Merambat perlahan, menutup tanah yang kosong, menyembuhkan luka bumi sedikit demi sedikit.”

 

Sophie menoleh, matanya penuh rasa ingin tahu. “It heals the ground?” tanyanya pelan. Saya mengangguk. “Yes. It holds the soil. Menjaganya agar tidak hanyut saat hujan turun deras. Ia melindungi, tanpa menunggu untuk dilihat.”

 

Sophie kembali menatap hamparan bunga kudzu yang membentang seperti karpet ungu di pelukan bumi. Sejenak ia diam, lalu, nyaris seperti bisikan yang dititipkan angin pada pagi, ia berkata lembut,“Maybe that’s why no one notices it… because it’s too busy helping.”

 

“Some things go unnoticed not because they are small, but because they are always giving.”

Part 24.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!