0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Drizzle leaves no echo, yet its silence stays with us.”

 

Kami masih berdiri di depan papan menu yang kini terasa seperti gerbang menuju dunia kecil kami sendiri. Tawa dan imajinasi telah meruntuhkan batas bahasa dan menyulam hangat di tengah hiruk pasar yang asing.

 

Tiba-tiba, Mbak Patsy berseru ringan, seolah menemukan sesuatu yang akrab di tengah suasana yang tak dikenali. “Ini kalau di Indonesia namanya pasar misbar, Chloe.” ujarnya, setengah bercanda.

 

Chloe menoleh, matanya membulat penasaran. “What is that, Tante Patsy?” tanyanya polos. Saya terkikik pelan, lalu menimpali dengan nada yang penuh nostalgia, seperti mengulang kisah dari masa kecil.

 

“Misbar itu singkatan dari ‘gerimis bubar’ artinya, begitu gerimis turun, pasar pun bubar. Tak ada tenda, semua di bawah langit.” Chloe mendongak ke langit dan berharap tak ada hujan. Ia tersenyum kecil, geli oleh istilah baru yang baru saja ia pelajari.

 

Terlihat kursi-kursi plastic mengelilingi meja kayu lipat yang ringkih, ditata seadanya di tengah pasar, dikelilingi kios-kios makanan dan minuman. Tak ada atap, hanya langit sebagai pelindung, dan angin yang datang tanpa aba-aba.

 

Oh well, tidak semua yang indah harus bertahan lama, ada yang memang akhirnya  bubar saat gerimis pertama datang. Namun mungkin justru di situlah letak nilainya, bukan pada lamanya, melainkan pada kehadirannya yang utuh, meski singkat.

 

Di antara aroma gorengan dan tawa kecil Chloe yang masih bergema, saya menyadari bahwa kehidupan terkadang menawarkan moment sederhana, lalu pergi tanpa pamit. Tugas kita bukan menahan, tapi hadir, sepenuhnya.

 

“Drizzle teaches us how to come gently, stay briefly, and leave behind nothing but calm.”

Part 25.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!