0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“True presence isn’t measured by the eyes, but by the heart that chooses to stay.”

 

Nenek tersebut masih melipat daun-daun pandan dengan cara yang sama, seolah waktu tak pernah tergesa. Di sekitar kami, suara pasar terdengar samar, seperti bisikan yang jauh. Tapi di sudut ini, di bawah tenda sederhana dan aroma serai yang pelan-pelan menguar, segalanya terasa melambat.

 

Sophie menyandarkan kepalanya ke bahu saya. “Mama,” bisiknya, “how come it feels so calm just sitting here?” Saya menatapnya sebentar, lalu membelai rambutnya yang sedikit berantakan ditiup angin pagi.

 

“Karena kadang, ketenangan tidak datang dari tempat,” saya menjawab pelan, “tapi dari orang yang ada di sekitar kita, sayang .” Ia diam, seperti menyimpan kalimat itu di tempat yang sunyi dalam dirinya.

 

Nenek itu tidak tahu, bahwa di balik lipatan-lipatan pandan itu, ia sedang menciptakan ruang aman bagi seorang anak. Bukan lewat pelukan, juga bukan dengan kata-kata, tapi lewat kehadiran yang utuh dan gerakan cinta yang tulus.

 

Saya ingin Sophie tahu, bahwa dunia tidak selalu harus keras untuk disebut nyata. Kadang, yang paling nyata justru adalah yang paling lembut, yang tak bersuara, tapi terasa.

 

Pagi itu, tanpa direncanakan, kami belajar bahwa damai bukanlah sesuatu yang harus dicari ke ujung dunia. Tapi sesuatu yang perlahan tumbuh, dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta dan kita izinkan untuk berkembang.

 

Pelajaran yang  Sophie tangkap hari itu mungkin tampak sederhana bahwa kehadiran bukan hanya soal tubuh yang ada, tapi hati yang diam-diam memilih untuk tinggal dan benar-benar hadir.

 

“True presence doesn’t seek attention, it’s something you simply feel.”

Part 6.

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!