“Time keeps moving, but when we are truly present, it feels like it pauses just for us.”
Saya dan Sophie masih duduk di sana, membiarkan dunia lewat begitu saja di sekitar kami. Gelas di tangan saya perlahan menghangat, memenuhi pagi dengan aroma segar manis dari serai dan pandan, berpadu dengan suara tawa kecil dari deretan tenda-tenda pasar yang tak jauh dari tempat kami duduk.
Sophie menggoyangkan kakinya di bawah kursi plastic, sesekali menyeruput Thai tea-nya yang dingin dan manis, warnanya cokelat lembut dengan lapisan tipis es yang mulai mencair.
Es batu di dalam gelas berdenting pelan, membentuk jejak embun di permukaan kaca. Matanya setengah terpejam, seolah ingin menahan rasa creamy dan harum tea itu lebih lama di lidahnya, seperti enggan membiarkan kenikmatan kecil itu berlalu terlalu cepat.
Saya melirik jam di pergelangan tangan, lalu tersenyum kecil. Saya kembali menyesap tea hangat di tangan, membiarkan keharumannya memenuhi dada. Sophie menangkap gerakan saya lalu berbisik, “Mama, how do we make time stop… just for a little while? I wish we could.”
Saya tertawa kecil, menepuk lembut tangannya. “Kita tidak bisa menghentikan waktu, sayang, tapi kita bisa memperlambatnya.” “How, Mama?” tanyanya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Saya membiarkan pertanyaannya melayang sebentar di udara sebelum menjawab, “Dengan benar-benar hadir.” Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan ujung-ujung canopy dari tenda. Aroma tea dan rempah memenuhi udara, menulis kisah kecil yang hanya kami berdua tahu.
Pagi itu, tanpa perlu banyak kata, kami mengerti bahwa memperlambat waktu bukan tentang menghentikannya, melainkan tentang mencintai setiap detik yang ada. Sebuah sudut pasar di Bangkok pun diam-diam menetap di hati kami, seolah berbisik bahwa beberapa moment memang diciptakan untuk tinggal.
“Time keeps moving, but memories stay where love once paused.”
Part 2.

