0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“It’s the flavor within, not the frame around it, that matters most.”

 

Saya , mbak Patsy dan Chloe masih duduk di bangku plastic itu, di bawah langit yang mulai dibungkus oleh cahaya rembulan. Malam perlahan mengusap udara, menyusupkan angin lembut yang membawa harum daun jeruk dari salad pepaya.

 

Tak lama duduk, makanan yang di pesan tiba. Kami saling bertukar pandang, lalu tertawa kecil, seolah membagi rahasia yang hanya kami bertiga yang mengerti. Di benak saya, masih terbayang gambar di papan menu tadi.

 

Salad pepaya dalam piring keramik putih yang elegant, dihiasi beberapa irisan jeruk nipis dan tomat kecil yang mengilap, warna-warna segar yang menyala, porsinya melimpah, nyaris seperti cuplikan dari majalah kuliner.

 

Saya menunduk, memandang kotak putih yang kini ada di hadapan. Styrofoam sederhana berbentuk mangkuk kecil untuk saya dan Chloe. Milik Mbak Patsy lebih pipih adalah piring berbentuk segi empat.

 

Chloe ikut menunduk, lalu menatap saya sambil tersenyum kecil. “Mama, it doesn’t look like the picture… but it smells really yummy,” bisiknya pelan, bukan kecewa, hanya seperti sedang belajar membaca kenyataan dengan cara baru.

 

Saya mengangguk, ikut tersenyum. “Iya, beda. Tapi yang penting bukan tampilannya, tapi rasanya sepertinya akan enak,” dengan suara rendah, seolah sedang menitipkan pelajaran kecil tentang hidup.

 

Styrofoam putih itu mungkin tak semewah piring keramik, tapi isinya tetap tampak mengundang. Mungkin tak seindah gambar di papan menu, namun itu bisa dimaklumi, ini adalah sepiring street food di tengah riuhnya night market, sederhana tapi menjanjikan kehangatan yang nyata.

 

“What comforts the soul doesn’t always shine on the surface.”

Part 27.

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!