0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Safe conversations don’t ask you to edit your feelings.”

 

Kami masih duduk berdampingan, menunggu antrean keluar dari pesawat. Lampu cabin menyala terang, tapi rasanya cahaya di antara kami terasa tetap lembut.

 

Ia menarik napas perlahan. “I often feel like… whenever I start talking, people only hear it as complaining. But honestly, I just need to let it out. So it doesn’t pile up inside.” Matanya masih menatap jendela kecil yang kini dipenuhi bayangan terminal.

 

Saya mengangguk pelan, memberi ruang agar ia terus bicara. “Kadang saya iri terhadap orang yang bisa bercerita tanpa takut salah paham,” lanjutnya lirih. “I’m still learning to believe that not everything I say will be taken the wrong way.”

 

Saya menoleh padanya. “Maybe the answer isn’t staying completely silent, but finding a place where you don’t feel like everything you say will sound like complaining.”

 

 

Ia tersenyum kecil, seolah kalimat itu memberi izin bagi isi hatinya yang selama ini hanya berani berdetak dalam diam. Lalu ia berbisik, “It feels lighter… to speak without worrying if I sound like I’m complaining again.”

 

Saya hanya menjawab dengan tatapan tenang dan kami tak banyak bicara setelah itu. Tidak perlu karena kadang, kata-kata yang paling membekas justru yang tak diucapkan berkali-kali, tapi kehadiran yang tidak mencoba memperbaiki, hanya bersedia menemani.

 

Seringkali, yang dibutuhkan adalah tetap duduk di samping seseorang, dan benar-benar mendengarkan, sampai hatinya tak lagi merasa sendirian.

 

“To be understood without defending every word, that is rare comfort.”

Part 8.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!