“Sisters share colors that only their hearts understand”
Pagi itu di Hat Yai, kami berhenti di depan pagar rumah tua yang dipeluk lebatnya bougenville. Kelopaknya bertumpuk-tumpuk, seperti helaian kain sutra yang dijemur oleh cahaya pagi, memantulkan gradasi lembut dari berbagai rona pink.
Chloe berdiri diam di samping saya, wajahnya separuh dalam bayang dedaunan, dan matanya mengikuti setiap gerakan dari kelopak yang menari bersama angin. Hampir berbisik, ia berkata, “If Sophie was here, she’d love this. So many kinds of pink and she’d probably name them all.”
Dalam bayangan saya, Sophie pasti akan berhenti mendadak di tengah trotoar dengan mata berbinar serta jari yang menari menunjuk ke arah warna-warna itu dengan semangat yang tak bisa ditahan.
“Yes, Mama. Dia akan bilang yang ini warnanya seperti strawberry milk, yang itu seperti rose jelly candy, yang di sana seperti raspberry ice cream, dan yang ini seperti bubblegum cotton candy yang super soft.”
Chloe menyebut aneka warna pink kesukaan Sophie satu per satu, suaranya pelan namun penuh keyakinan, seolah mengulang pelajaran yang ia hafal karena telah mendengarnya ratusan kali dari Sophie.
Setiap kata mengalun seperti gema kecil di sela kesibukan mereka di rumah, saat Sophie duduk bersila di lantai, dengan teliti mengurutkan warna dari kemasan lip balm, bungkus permen, hingga beragam pencil warna.
Saya hanya diam mendengarkan, sementara kelopak bougenville bergoyang pelan di atas kami, seakan mengenali nama-nama manis yang disebut oleh Chloe. Seperti panggilan rahasia antara dua saudara yang tahu betul bahwa warna bukan sekadar warna, tapi kenangan.
“Through a sister’s eyes, even fleeting colors learn to stay.”
Part 5.

