“Sitting alone doesn’t mean being alone. It’s a different way of being present with the world.”
Langit masih berlapis biru pucat saat saya duduk di sebuah kopi tiam di daerah Gadong, berbagi meja dengan tiga wanita paruh baya. Asap tipis mengepul dari teh tarik di hadapan kami, bercampur dengan aroma kue dan roti hangat, menciptakan keintiman tersendiri di antara riuh rendah pagi.
Saya memperhatikan sekitar, melihat wajah-wajah yang tenggelam dalam cerita mereka. Di sudut ruangan, sekelompok anak muda tertawa lepas, suara mereka berpadu dengan denting sendok beradu dengan gelas. Di meja lain, beberapa pria menyeruput kopi hitamnya di sela obrolan hangat.
Dulu, mungkin saya akan merasa canggung duduk sendirian di tempat asing. Ada masa di mana saya menghindari meja kosong, seakan kesendirian adalah tanda kesepian. Tapi solo traveling selama bertahun-tahun mengajarkan hal lain.
Duduk sendiri di tempat yang baru bukanlah kesepian, melainkan ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Dalam diam, saya belajar mengamati, mendengar tanpa menyela, dan merasakan tanpa distraksi. Kita bukan sekadar orang yang singgah, tapi bagian dari alur kehidupan yang terus bergerak.
Pagi ini, di antara orang-orang yang berbagi meja tanpa perlu mengenal satu sama lain, saya diingatkan bahwa ke mana pun kita pergi, yang terpenting bukan di mana kita berada, tapi bagaimana kita menerima keberadaan diri di setiap sudut dunia.
Di meja yang tak pernah saya singgahi sebelumnya, saya tak merasa asing. Justru, di antara wajah-wajah yang tak dikenal dan gemuruh pagi yang berbaur dalam cangkir-cangkir coffee, saya menyadari bahwa duduk sendiri bukanlah hal yang aneh dan bukan pula tanda kesepian.
Kadang, justru saat duduk sendiri, kita mendengar dunia lebih jelas, merasakan diri lebih utuh, dan menyadari bahwa kehangatan selalu ada. Entah dalam senyum samar orang asing, dalam riuh percakapan, atau dalam keheningan yang justru membuat kita merasa tak benar-benar sendirian.
“The world does not turn away when you sit alone. It simply unfolds, offering you a new way to see.”
Part 3.

