0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Real strength often rises when we stop forcing and start accepting.”

 

Keesokan harinya saya pulang lebih dulu ke Indonesia. Langit sore menggantung rendah, berwarna biru jernih, seolah ikut menyambut dan mengucapkan selamat datang dengan cara yang tenang. Tidak meriah, tapi cukup.

 

Sehari setelahnya, Mbak Patsy menyusul. Saat itu saya sedang menyeduh tea saat ponsel berdering. Namanya muncul di layar, dan begitu saya angkat, suaranya langsung terdengar cerah seperti biasa.

 

“Tahu tidak, Mbak Sarah,” sambil tertawa pelan, “roda terakhir itu… akhirnya lepas juga.” Saya terdiam sejenak, separuh kaget, separuh ingin ikut tertawa. Rasanya seperti mendengar kabar sedih yang dibungkus dalam amplop warna pink. “Lepas… semua, Mbak Pats?” nyaris tidak percaya.

 

“Iya,” jawabnya ringan. “Waktu landing dari Manila ke Indonesia. Jadi koper ini sekarang harus saya gendong, tidak bisa didorong lagi.” Suaranya tak ada nada kesal. Saya bisa membayangkan senyumnya, mengalir dari ujung telepon, menyusup pelan ke dalam hati saya yang tiba-tiba terasa hangat.

 

Di benak, tergambar sosok Mbak Patsy di tengah keramaian airport, memeluk koper ungunya yang kini benar-benar tanpa roda. Tak lagi bisa bergerak sendiri, tapi tetap utuh dan dibawa pulang dengan kedua tangan.

 

Seperti biasa, ia tidak mengeluh dan tidak menyalahkan perjalanan, maskapai, atau jadwal yang sangat padat membuat koper itu rusak. Ia hanya tertawa, seolah ingin berkata, “Kalau memang harus digendong, ya digendong saja.”

 

Di balik tawa Mbak Patsy, saya mendengar sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kabar kehilangan roda. Ada pelajaran tentang keikhlasan dan  menerima apa adanya, tanpa marahdan tetap mencintai perjalanan, meskipun caranya berubah.

 

“The heart moves further when it no longer fights the weight it carries.”

Part 51.

 

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!