0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We grow not by rushing, but by reaching softly into the spaces that allow us to bloom.”

 

Di tengah pagi yang mulai menghangat, saya masih menatap bunga kudzu itu, merenungi caranya bertahan. Bukan dengan melawan, bukan pula dengan mencengkeram ruang yang bukan untuknya.

 

Ia bertahan dengan cara yang lembut yaitu menjalar pelan di mana pun ada tempat yang bersedia menyambut. Di tanah yang retak, di pagar tua, melingkari batang pohon yang tak pernah mengenalnya, bahkan merayap diam di dinding bangunan yang dingin dan asing.

 

Ia tidak meminta banyak, hanya setitik cahaya, sehembus napas, dan ia akan hidup. Sulurnya terlihat menjulur pelan seakan menyentuh dunia tanpa tergesa dan tanpa suara. Satu centimeter demi satu centimeter.

 

Saya kembali mengamatinya, lalu menoleh ke arah Sophie yang masih berjongkok di sisi rerumputan. Jarinya menunjuk bunga-bunga kecil itu dengan  matanya yang penuh rasa ingin tahu.

 

Saya menyibak pelan rambutnya yang sedang menari lembut ditiup angin, menyentuh wajah kecil yang penuh perhatian. Pandangan saya kembali pada bunga kudzu, yang tampaknya tak tumbuh untuk dilihat, melainkan karena itulah hakikatnya: untuk terus ada, meski dalam diam.

 

Saya pun diam-diam belajar bahwa dalam hidup yang penuh desakan ini, kita tak selalu harus mendorong. Ada kekuatan yang berbeda dalam kelembutan,  keberanian  dalam bertahan diam-diam, dan ada makna dalam hadir sepenuh hati, bahkan saat dunia tak menoleh.

 

Oh well, kadang, yang paling berarti bukan yang paling terlihat, tapi yang terus ada, menyentuh ruang yang kosong, menyapa dengan kelembutan, dan tumbuh secara perlahan, tanpa harus dipaksakan, namun tetap utuh.

 

“It is through quiet presence, day by day, that growth begins, unseen yet steady.”

Part 20.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!