The greatest weapon against stress is our ability to choose one thought over another.” – William James
Sophie menatap ikan di piringnya, sesekali mengunyah sambil matanya menerawang. Setelah beberapa gigitan, pipinya tak lagi merona kantuk. Sebuah semangat kecil muncul dari rasa kenyang itu.
“Mama,” katanya tiba-tiba, menoleh dengan mata yang masih bersinar. “That surfer neighbor… why do you think he looks so sad tonight? In the morning he looked happy.”
Saya menatapnya sembari tersenyum tipis. “Kadang, Sophie sayang, bukan malamnya yang membuat kita sedih.”
“Malam itu hanya hening untuk memberi ruang. Tapi yang membuat berat adalah pikiran yang kita ciptakan sendiri di kepala. Kita tidak menderita karena malam itu sendiri, tapi imajinasi kita yang memutarnya berulang-ulang.”
Sophie mengunyah pelan, lalu mengangguk. “So… he’s probably suffering his own imagination. Not the night itself.” “Betul, sayang,” sembari menepuk lembut punggungnya.
“Pikiran bisa menakut-nakuti diri sendiri kalau kita terlalu menaruh perhatian pada hal-hal yang belum pasti. Malam datang hanya untuk memberi kesempatan melihat apa yang sebenarnya kita pikirkan.”
Sophie tersenyum samar. “Mama, I think I get it. The night is quiet but our mind can make it loud, like the waves I ride when surfing, rolling and crashing one after another when you focus too much on things that aren’t certain.”
“Nothing can bring you peace but yourself.” – Ralph Waldo Emerson
Part 5.

