“Care can be quiet and still hold you steady.”
Saat saya melangkah ke dalam Suvarnabhumi airport, udara terasa berbeda. Sejuk, dengan jejak aroma manis dari sebuah cafe kecil di sudut airport, bercampur dengan semilir lembut pendingin ruangan yang menenangkan.
Langit-langitnya menjulang tinggi. Kaca dan baja memantulkan cahaya yang bergerak perlahan, juga wajah-wajah lelah yang datang dari berbagai arah. Masing-masing membawa ritme kesibukan mereka sendiri.
Roda koper berderak mengikuti irama yang sudah akrab. Di sekitar saya, orang-orang bergerak dengan tujuan masing-masing.
Ada yang melangkah cepat, ada yang berhenti sejenak untuk mengatur napas, ada pula yang berdiri ragu, seperti belum sepenuhnya tiba di tempat yang mereka tuju.
Pandangan saya tertahan pada seorang ayah yang sedang mengumpulkan koper. Seorang anak tertidur di pundak ibunya, sementara anak lainnya menggenggam tangan ibunya erat, seolah dunia terasa terlalu besar untuk dilepas sendirian.
Di saat itu saya mengerti sesuatu. Perhatian tidak selalu datang untuk menjemput atau menyambut. Kadang ia cukup hadir dengan tetap tinggal di sisi kita, memastikan langkah tetap aman, tanpa perlu banyak kata.
Suasana di Suvarnabhumi airport mengajarkan hal ini dengan tenang. Dalam sebuah perjalanan, terkadang yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang berjalan bersama, memastikan kita tidak pernah benar-benar sendirian.
“The journey feels lighter when someone stays in step.”
Part 23.

