“True care isn’t proven by possession, but by the quiet reverence we offer after goodbye.”
Bus terus bergerak perlahan, menyusuri jalanan kota yang mulai padat. Di luar, langit berpendar keemasan, menyentuh atap-atap rendah dan jemuran tua dari jendela apartment yang bergoyang pelan tertiup angin laut.
Di dalam, percakapan di bangku sebelah mulai mereda, digantikan keheningan yang terasa lebih berat daripada suara. Tapi justru dalam diam itulah, maknanya muncul perlahan.
Saya menunduk sebentar, mengamati bayangan tangan sendiri yang tergambar samar di kaca. Pikiran saya kembali pada suara perempuan itu, dan pada semua hal yang ia simpan tanpa disadari telah menyimpannya juga.
Mungkin hidup bukan soal berapa lama kita bisa mempertahankan sesuatu, tapi bagaimana kita belajar merawatnya tanpa takut kehilangan.
Merawat, ternyata, tidak selalu berarti menggenggam erat. Ada kalanya, justru yang paling setia adalah yang kita izinkan pergi, namun tetap tinggal dalam cara kita melihat dunia.
Saya menarik napas pelan. Barangkali, belajar merawat juga berarti tahu kapan harus meletakkan, tanpa merasa kehilangan. Sebab ada hal-hal yang justru tetap hidup dalam ingatan, meski tak lagi ikut dibawa dalam langkah.
Yang tidak lagi digenggam, tetapi tetap menetap, diam-diam, di tempat yang paling tenang dalam diri.
“To care is not always to keep. Sometimes it’s allowing something to rest, while the love it carried stays quietly with you.”
Part 27.

