“The beauty of the world is not in where we stand, but in how we see.”
Chloe melompat turun dari kursi, berjalan ke balcony, dan bersandar di pagar. Matanya menatap jauh ke arah kota yang perlahan terbangun. Cahaya keemasan menari di kaca apartment kami, memantulkan siluet kehidupan yang mulai bergerak, seperti canvas yang diwarnai lembutnya pagi.
Saya melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. Udara pagi menyapu wajah kami dengan kesejukan yang masih menyisakan sisa embun malam. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi santan yang samar, berasal dari mango sticky rice yang tadi ia taruh di atas meja.
“Mama, kenapa buahnya terasa lebih enak di sini?” tanyanya tiba-tiba dengan penuh rasa ingin tahu. Jemarinya masih menggenggam sebutir anggur, seakan menimbang rasa di lidahnya. Saya menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Tentunya karena diberikan dengan hati yang tulus.”
Saya berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi juga mungkin karena perjalanan membuat segalanya lebih berarti, sayang.” Ia mengerutkan dahi, belum sepenuhnya mengerti. Saya menunjuk ke arah jalanan di bawah, di mana orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa.
“Kalau kita selalu berada di tempat yang sama, semuanya terasa biasa. Tapi saat kita melangkah keluar, melihat dunia dari sisi yang berbeda, hal-hal kecil pun bisa terasa istimewa.” Chloe menggigit anggurnya perlahan, meresapi manisnya yang sederhana. Ia mengangguk kecil, masih mencerna kata-kata saya.
“Jadi kalau saya ingin sesuatu terasa lebih enak, apakah saya harus pergi ke tempat baru?” tanyanya polos. Saya tertawa pelan, mengusap lembut rambutnya yang tersibak angin. “Bukan hanya tentang pergi, tapi tentang cara kita melihat, sayang.” Ia termenung, lalu tersenyum.
Mungkin ia belum sepenuhnya memahami, tapi suatu hari nanti, ketika langkah-langkahnya membawanya jauh dari rumah, ia akan mengingat pagi ini. Disaat sebutir anggur mengajarkannya bahwa dunia bukan hanya tentang tempat yang kita pijak, tapi juga tentang cara kita memandangnya.
“The world remains the same, but how we see it changes everything.”
Part 10.

