“To be remembered in someone’s joy is a kindness that never fades.”
Arsyl menatap ke luar jendela, gerimis perlahan mereda, meninggalkan jejak bening di kaca. “Kamu tahu,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam kehangatan ruangan, “kadang kita tidak sadar kalau hal-hal kecil yang kita lakukan bisa berarti besar bagi orang lain.”
Saya menyesap teh yang mulai suam-suam kuku. “Maksud kamu?” Arsyl tersenyum, matanya seakan menyimpan kisah yang belum terucap. “Dulu, setiap musim panen, seorang tetangga selalu membawakan ibu saya sekeranjang besar apple.”
“That’s very kind of her, Arsyl.” Saya membayangkan kebaikan sederhana itu, sebuah kebiasaan yang mungkin tampak sepele, tapi berakar dalam. Hong mengangguk setuju.
“Tapi buah apple yang ibu terima sering kali masih mengkal, seolah belum benar-benar matang saat dipanen,” lanjut Arsyl. “Tapi ibu tetap menyimpannya untuk saya. Katanya, ‘Ini bukan soal apple, tapi soal ingatan.’”
Hong meletakkan cangkirnya perlahan, seolah menyerap makna di balik kata-kata itu. “Menjadi orang pertama yang terlintas di benak seseorang saat mereka mendapat rezeki… itu sendiri adalah bentuk perhatian.” Arsyl mengangguk, matanya menerawang.
Saya tersenyum kecil, menatap mereka berdua, lalu membiarkan pandangan saya mengikuti angin lembut yang berusaha masuk lewat celah jendela. “Berarti kebaikan bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang mengingat.”
Arsyl mengangguk pelan. “Dan kita tak pernah tahu, di hati siapa ia akan tumbuh.” Mungkin kebaikan bukan sekadar lingkaran yang berputar, tapi juga jejak yang menetap, seperti gerimis di kaca. Perlahan memudar, tapi tak benar-benar hilang.
“Kindness is not just in the giving, but in being remembered.”
Part 13.

