Nadia Hutagalung, supermodel berdarah Batak – Australia ini mengawali karirnya pada saat Ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama dengan menjadi model di Negeri Sakura. Sembilan tahun menekuni karirnya di bidang model, Nadia mulai merambah profesi menjadi VJ (Video Jockey) di salah satu stasiun TV Asia, yang pada waktu di siarkan juga di Indonesia pada tahun 90-an.
Tidak hanya terkenal di Indonesia, alih profesi menjadi VJ ini melambungkan namanya sampai ke negera-negera tetangga. Setelah namanya dikenal di hampir semua Negara Asia, Nadia menerima banyak tawaran, mulai dari bintang iklan, sinetron, dan presenter di berbagai acara tv.
Pada tahun 2006, Nadia menikah di Bali dengan Desmond Koh, atlet renang asal Negeri Singapura. Setelah mereka menikah, Nadia memutuskan untuk tinggal di Singapura mengikuti suaminya. Di Bukit Timah, Singapura, Nadia dan suami membuat rumah yang sangat eco-friendly, rumah ini merupakan eco-home pertama di Singapura mengingat Negeri Singapura merupakan negeri yang sangat modern.
Dalam pembuatan eco-home ini, Nadia menggunakan material yang berasal dari bahan-bahan daur ulang dan menggunakan furniture maupun elektronik bekas yang berumur belasan bahkan puluhan tahun. Dan jika rusak, Nadia lebih memilih untuk memperbaikinya ketimbang membeli baru. Semua bahan bangunan dan perlengkapan rumah dibeli Nadia, tidak jauh dari lokasi rumah yang Ia bangun, hal ini dilakukan agar mengurangi jejak karbon.
Seperti baju dan sepatu, Nadia mengaku membeli 6 tahun sekali dan untuk tas Ia beli 2 tahun sekali, itupun bukan merk terkenal. Jika sudah tidak terpakai, Nadia simpan dengan rapi agar suatu saat bisa dipakai oleh anaknya.
Pada tahun 2007, Nadia dan suaminya membuat website yang bernama www.greenkampong.com. Website ini membahas tentang gaya hidup ramah lingkungan, cara mempraktekkan gaya hidup yang ramah lingkungan, resep menu makanan sehat, eco-fashion, kecantikan, teknologi dan pengetahuan.
Pada tahun 2012, Nadia ditunjuk oleh John Hardy dan Cynthya Hardy pemilik dari Green School Bali untuk menjadi dewan kehormatan di Green School Bali.
Karena terkenal dengan kepeduliannya terhadap lingkungan dan alam, Nadia mendapat penghargaan sebagai “Selebriti Internasional Yang Paling Bertanggung Jawab” yang diberikan oleh The International Green Awards pada tahun 2013.
Pada tahun 2014, Nadia bertemu dengan salah satu temannya bernama Tammie, Tammie menceritakan tentang penderitaan yang dialami oleh Gajah Afrika, yang dibunuh untuk diambil gadingnya. Mendengar cerita Tammie, Nadia langsung memutuskan untuk ke Afrika melihat langsung kondisi gajah-gajah yang ada di sana.
Sebelum berangkat, Nadia mengumpulkan teman-teman pecinta lingkungan untuk bergabung menjadi tim penyelamat gajah-gajah di Afrika. Dan melakukan kampanye pada program “Let Elephants Be Elephants”. Tujuan dari kampanye ini, Nadia menyuruh semua masyarakat di dunia untuk melindungi hewan langka terutama pada Gajah.
Orang tua Nadia yang membuat Nadia terinspirasi terhadap lingkungan, salah satunya dengan cara peduli akan lingkungan dan mencintai hewan-hewan langka, termasuk gajah. Nadia tumbuh besar diantara patung gajah dan lukisan gajah di seluruh isi rumahnya.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Nadia juga mengajarkan kepada anak-anaknya agar hidup sehat dan mencintai lingkungan, salah satunya memberi menu makanan sehat dari sayur dan buah-buahan organik, dan sebisa mungkin menghindari daging. Sisa-sisa pembungkus makanan, juga diubah Nadia dan anak-anaknya menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai seni tinggi.
Pada saat Nadia melakukan uji darah ekstensif, dokter bahkan tidak menemukan penyakit dan semuanya normal. Pola makan sehat vegetarian dan menjalani olahraga yoga, membuat Nadia hidup sehat dan tetap cantik meski usianya hampir setengah abad.
Dari cerita singkat tentang Nadia Hutagalung, banyak hal positif yang dapat kita ambil manfaatnya dari kepeduliannya terhadap lingkungan, serta menjalani hidup sehat. Marilah kita jaga bumi ini dengan penggunaan bahan daur ulang dan hidup sehat dengan menjaga pola makan seperti yang dilakukan Nadia Hutagalung.


