“The comfort of home doesn’t come from walls or roofs, but from the connections we cherish.”
Langit Basel saat senja memancarkan semburat orange, sementara jalanan yang berlapis salju mulai mencair, menciptakan genangan kecil yang memantulkan bayangan bangunan tua. Suara mesin pengering di basement berhenti berputar, menciptakan suasana sepi.
Michael menumpuk pakaian bersih di dalam keranjang kecil, lalu menatap saya dengan tatapan penuh arti. “Sarah, you know what,” sambil tersenyum tipis, “Di Algeria, kalau kita menunggu sesuatu, selalu ada tea atau coffee. Tidak seperti di sini, semuanya terasa… hening.”
Saya mengangguk, mengerti maksudnya. “Di Indonesia juga begitu. Selalu ada obrolan, gelak canda tawa, bahkan makanan kecil untuk berbagi. Di sini, seperti tidak ada ruang untuk berhenti menikmati waktu.” Michael kembali duduk bersila di samping saya.
“Kita terbiasa dengan keramaian, Michael,” saya akhirnya berkata. “Keramaian itu bukan hanya soal banyaknya orang, tapi juga tentang rasa saling hadir—bahkan tanpa kata-kata. Di sini, semuanya terasa… individual. It’s not bad, just… different.”
Michael tertawa kecil, lalu mengeluarkan sepotong basboussa cake dari sakunya. “It’s okay, kita ciptakan sendiri rasa itu. Ini cake khas Algeria, saya buat kemarin bersama Tilahum,” sambil membagi kue. “Tidak ada Rooibos tea favorite kamu, tapi ada basboussa dan obrolan sederhana kita.”
Saya mengambil kue sambil menggigitnya perlahan. “Mungkin benar, kita tidak bisa memaksa tempat ini menjadi seperti rumah, tapi kita bisa membawa potongan kecil dari rumah ke sini. Membuatnya terasa lebih hidup.” dengan mata berbinar.
“Sarah, kebahagiaan itu sederhana, hanya soal berbagi waktu, cerita, atau bahkan sepotong kue.” Seiring berjalannya waktu, canda tawa kami makin mengalir membuat suasana lebih hidup, dan hati kami dipenuhi keramaian yang menyejukkan, meski hanya di basement yang sunyi.
“The soul doesn’t need a map to feel at home. It follows the warmth of shared laughter and simple joys.”
Part 3

