“What holds us back is often not real, just doubt disguised as truth.”
Gemeretak roda troli di atas karpet bercampur dengan suara kardus yang dibuka, plastik yang disobek, dan percakapan dalam berbagai bahasa yang bersahutan. Udara dipenuhi aroma kayu, berpadu dengan semangat yang tak terlihat, tapi begitu terasa.
Di tengah riuhnya loading day, saya melirik Chloe, keringatnya masih menetes meski hanya membantu hal-hal kecil seperti menempel poster, mengelap meja dan menata kursi di sekeliling booth. Ia menyeka keningnya tanpa keluh kesah dan matanya masih menyala dengan semangat.
Kami akhirnya duduk, mengagumi hasil kerja kami sendiri. Richard, yang baru kembali setelah sibuk membantu peserta lain, mengangkat alis, takjub. “Luar biasa,” gumamnya. “Saya pergi sebentar, kalian sudah merobohkan panel dan mengatur ulang segalanya.”
Saya tertawa sembari menyeka peluh di dahi. “Iya, Richard, kadang kita sendiri yang pegang solusinya.” Mbak Patsy menyandarkan tubuhnya ke kursi, tertawa ringan. “Kalau terlalu lama menunggu bantuan, tidak akan mulai-mulai!” katanya, masih dengan nada bercanda tapi penuh arti.
Di sudut ruangan, Chloe terduduk di atas karpet, kelelahan, namun pikirannya tampak bergerak. “So, if something goes wrong, we should try to fix it by ourselves first?” tanyanya polos.
Saya tersenyum, mengusap rambutnya yang masih sedikit lembap oleh keringat. “Iya, Sayang. Meminta bantuan itu boleh, tapi jangan jadikan itu satu-satunya jalan. Kadang, yang kita butuhkan bukan orang lain, tapi keberanian untuk mencoba meski harus melewati rasa lelah.”
Oh well, dalam hidup, bukan seberapa banyak tangan yang terulur yang menentukan langkah kita, melainkan keyakinan bahwa kaki kita sendiri mampu berdiri. Sebab sering kali, batas yang terlihat hanyalah ilusi dan menunggu kita cukup berani untuk melangkah melewatinya.
“Limits are often just unseen paths waiting to be crossed.”
Part 18.

