“The first six months, try only to build up your power of concentration, to create an inner calmness and serene joy. You will shake off anxiety, enjoy total rest, and quiet your mind. You will be refreshed and gain a broader, clearer view of things, and deepen and strengthen the love in yourself. And you will be able to respond more helpfully to all around you.”
― Thich Nhat Hanh, The Miracle of Mindfulness: An Introduction to the Practice of Meditation
Kota Hue terletak di bagian timur, tepatnya di Provinsi Thua Thien-Hue, Vietnam yang terkenal dengan julukan the land of blue dragon karena letaknya yang tidak jauh dari ocean. Adapun negara lainnya yang mendapatkan julukan yang hampir sama adalah China dengan red dragon, Jepang dengan black dragon dan Korea dengan white dragon.
Saat menjejaki kota Hue serasa kembali ke zaman abad 19 karena sarat dengan nuansa kuno zaman kolonial, sungguh mengingatkan akan kota Jogjakarta yang penuh dengan nuansa classic dan romantisme yang sama.
Motor Binh melaju menembus suasana pagi dipayungi oleh mentari pagi yang masih bertengger dengan paparan hangat sinarnya yang menembus hingga ke hati. Tujuan kami adalah menuju Wihara Từ Hiếu tempat dimana zen master dan the father of mindfulness , Thay Thich Nhat Hanh bermukim hingga akhir hayatnya.
Semasa hidupnya, beliau adalah salah satu biksu pertama yang mempelajari mata pelajaran sekuler di universitas di Saigon dan yang mengendarai sepeda zaman itu. Beliau mengajarkan tentang praktik hidup secara mindfulness ke dunia barat salah satunya dengan gerakan International wake up school serta tumpahan pikirannya yang sangat menginspirasi melalui buku-bukunya.
Setelah hampir dua jam, saya menepuk punggung Binh untuk berhenti disalah satu cafe kecil yang kami lewati.
“Binh,mari kita mampir lunch dahulu sambil menikmati Vietnamese coffee. Oh gosh , I can’t get enough of it. Apakah disini menyediakan menu vegetarian?”
“ Sarah, apakah kamu vegetarian ? Sebagai seorang Budhist , saya juga seorang vegetarian.”Ia membelalakkan matanya seakan tak percaya.
“No, saya tidak bisa mengonsumsi babi sehingga lebih mudah mencari menu vegetarian. Tapi memang tidak semudah itu sehingga kadang saya hanya ke local market dan membeli sayuran segar serta aneka kacang untuk saya nikmati sebagai salad.”
Kami berjalan memasuki ruangan yang nampak sangat ramai dengan hiruk pikuk pengunjung yang sedang merayakan moment istimewa mengelilingi meja dan duduk di kursi plastik rendah. Semua meja nampak penuh sehingga kami ikut bergabung disalah satu meja panjang yang masih tersisa dua kursi kosong.
“Oh Binh, ramai sekali. Sebaiknya kita menyelesaikan makan kita secepatnya dan bergegas pergi, teriakan mereka silih berganti membuat saya terbawa suasana dan ikut pusing.“
“Listen, sejak kecil saya telah diajarkan untuk melatih pikiran untuk lebih calm agar mendapatkan inner peace walau pun ditengah keramaian. Remember when your mind is restless, every wave can turns into a storm. The key is bagaimana kamu belajar untuk mengontrol pikiran kamu.“
Perkataan singkat dari Binh benar adanya, my mind controls the state of my life. When my mind is calm, my life seems easy, but when my mind is full of chaos, i will find difficulty in everything.
Salah satu alasan kenapa hidup terasa penuh tantangan karena my restless mind. When my mind is not given the space it requires, it doesn’t get the time to filter out all of my thoughts and understand what I really need. To calm my mind, I should try to find my own solitude ditengah hiruk pikuk tersebut. Once my mind is calm, nothing will ever seem hard.
“I like to walk alone on country paths, rice plants and wild grasses on both sides, putting each foot down on the earth in mindfulness, knowing that I walk on the wondrous earth. In such moments, existence is a miraculous and mysterious reality. People usually consider walking on water or in thin air a miracle. But I think the real miracle is not to walk either on water or in thin air, but to walk on earth. Every day we are engaged in a miracle which we don’t even recognize: a blue sky, white clouds, green leaves, the black, curious eyes of a child—our own two eyes. All is a miracle.”
― Thich Nhat Hanh, The Miracle of Mindfulness: An Introduction to the Practice of Meditation
November 17th, 2022

